Hubungan Dengan China Memanas, Bisnis Wine Australia Babak Belur

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 19 Feb 2021 10:39 WIB
7 Fakta Wine, Minuman yang Diduga Dibeli Edhy Prabowo Pakai Uang Suap
Ilustrasi/Foto: Getty Images/webphotographeer
Jakarta -

Hubungan diplomatik antara Australia dan China sedang memanas. Keretakan hubungan baik kedua mulai memburuk sejak bulan April 2020 lalu usai Perdana Menteri Scott Morrison menyerukan penyelidikan internasional terhadap asal-usul COVID-19. Beijing pun sangat marah dengan sikap pemerintah Australia tersebut.

Tak lama kemudian, sejumlah komoditas ekspor Australia seperti kayu, daging sapi, beberapa jenis batu bara, dan akhirnya anggur (wine), mulai menemui kesulitan memasuki pasar China.

Pada Agustus, Kementerian Perdagangan China mengumumkan penyelidikan anti-dumping terhadap anggur (wine) Australia. Setelah itu, pada November 2020, China mulai memberlakukan tarif terhadap produk anggur (Australia) hingga 212%. Sampai saat ini, belum jelas kapan tarif itu akan berakhir atau malah dijadikan permanen.

Hal ini tentu berimbas kepada bisnis wine Australia selanjutnya mempengaruhi ekonomi Negeri Kangguru itu secara menyeluruh. Mengingat Australia adalah pengekspor anggur terbesar kelima di dunia dan rumah bagi beberapa kawasan anggur paling terkenal di dunia, seperti Lembah Barossa di Australia Selatan dan Lembah Hunter di New South Wales.

Industri anggur Australia menyumbang hingga US$ 35 miliar bagi perekonomian negara itu setiap tahun

Sebelum November, China sejauh ini merupakan pasar anggur terbesar bagi Australia. Pada 2019, lebih dari sepertiga anggur yang diekspor Australia masuk ke China.

Dikutip dari CNN, Jumat (19/2/2021) negara itu membeli US$ 840 juta dari kebun anggur Australia. Di tahun itu, Australia menjual lebih banyak anggur berdasarkan nilainya ke China daripada ke Amerika Serikat, Inggris Raya, dan Kanada jika digabungkan.

Alister Purbrick, pembuat anggur Victoria generasi keempat dan kepala eksekutif Tahbilk Group, mengatakan bahwa Australia telah membangun bisnis anggurnya di China selama bertahun-tahun, tetapi baru benar-benar berkembang setelah kedua negara menandatangani perjanjian perdagangan bebas pada tahun 2015, yang menghapus 14% tarif untuk anggur Australia.

Penghapusan tarif meningkatkan industri yang sedang tumbuh. Antara 2008 dan 2018, ekspor anggur Australia ke China melonjak dari US$ 73 juta menjadi lebih dari US$ 1 miliar.

Tonton Video: China Resmi Tahan Wartawan Australia

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2