MA Inggris Tetapkan Driver Uber Pegawai, Bukan Mitra

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 19 Feb 2021 22:51 WIB
Bawa Daging Babi, Pelanggan Uber di Melbourne Mengaku Ditolak Seorang Supir Muslim
Foto: Carl Court/Getty Images
Jakarta -

Mahkamah Agung (MA) di Inggris menetapkan pengemudi taksi online Uber merupakan pegawai, bukan mitra independen. Hal ini membuat Uber memutar otak untuk memperlakukan ribuan pengemudinya yang juga mau disebut sebagai pegawai.

Keputusan dengan suara bulat itu dapat memberikan pukulan besar bagi model bisnis perusahaan Diyakini para pengemudi akan segera membuka opsi untuk mengklaim upah minimum dan cuti yang dibayar sesuai dengan hak pegawai.

Dilansir dari CNN, Jumat (19/2/2021), pengadilan mengatakan bahwa sekelompok pengemudi Uber yang membawa kasus ini ke pengadilan ketenagakerjaan bukanlah mitra independen. Aktivitas mereka ditentukan dan dikontrol dengan sangat ketat oleh Uber.

Meskipun efek praktis dari keputusan tersebut belum jelas, keputusan tersebut diyakini dapat mengubah cara Uber menjalankan bisnis di Inggris Raya. Langkah selanjutnya adalah meminta pengadilan ketenagakerjaan untuk memutuskan bagaimana memberikan kompensasi kepada lusinan penggugat.

Gugatan terhadap Uber pertama kali diajukan ke pengadilan ketenagakerjaan Inggris oleh Yaseen Aslam dan James Farrar pada tahun 2016 ketika kedua pria itu mengemudi untuk Uber. Aslam yang dulu bekerja di sebuah perusahaan mengatakan dia dibujuk ke Uber dengan gaji dan bonus yang menggiurkan.

Namun Aslam mengklaim tunjangan itu cepat mengecil jumlahnya. Dia berpendapat hal itu terjadi karena lebih banyak pengemudi yang bergabung dengan Uber, menghasilkan lebih sedikit perjalanan dan tarif yanglebih rendah.

Aslam dan Farrar menang di pengadilan ketenagakerjaan dan kemudian dalam dua banding berikutnya oleh perusahaan. Aslam mengatakan bahwa kompensasi yang akan diperolehnya jumlahnya dinilai sangat kecil dibandingkan dengan upaya yang diperlukan untuk mengajukan gugatan.

"Tapi intinya adalah, seseorang harus melakukannya," kata Aslam.

Kasus ini sekarang kembali ke pengadilan ketenagakerjaan, yang dapat memerintahkan Uber untuk membayar kompensasi kepada sekitar 20 penggugat asli. Ribuan pengemudi Uber telah mengambil tindakan hukum terhadap perusahaan, dan keputusan tersebut dapat segera diterapkan kepada mereka.

Pengemudi yang menggunakan platform pada saat gugatan mungkin juga memenuhi syarat untuk mengajukan klaim kompensasi.

(hal/hns)