Mau Bisnis Musiman Tetap Cuan Sepanjang Tahun? Ini Tipsnya

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 24 Feb 2021 07:45 WIB
Jakarta -

Sejumlah bisnis kerap populer di suatu waktu atau periode. Kondisi ini kerap dicap sebagai bisnis musiman, di mana banyak pengusaha terjun di bisnis yang sama.

Ada pengusaha yang sukses karena mengikuti arus ini. Namun, tak jarang juga ada yang tekor karena ikut-ikutan. Lalu, apa yang perlu dicermati?

Motivator Bisnis Tjokro Wimantara mengatakan, bisnis musiman ini bisa dikelompokkan menjadi dua, yakni bisnis tahunan dan bisnis yang sifatnya tren. Pria yang akrab disapa Pak Win ini menjelaskan, bisnis musiman tahunan ialah bisnis yang naik dalam periode tertentu setiap tahunnya seperti saat Valentine, Natal atau Tahun Baru.

Sementara, bisnis yang ngetren ialah bisnis yang sekali dua kali naik. Bisnis ini seperti berkembangnya minumnya boba belakangan ini.

Nah, untuk bisnis pola seperti ini yang perlu dicermati adalah siklusnya. Kadang, orang akan tertarik karena terpikat saat pada tren penjualan tinggi. Hal ini berpengaruh pada proyeksi kebutuhan modal. Padahal, bisnis dengan model seperti ini akan mengalami normalisasi.

"Yang penting harus paham siklus nanjaknya dibanding bisnis lain awal-awalnya pasti tanjakannya tinggi, tanjakan penjualannya. Kadang orang terpukau dengan ilusi penjualan ini pada saat memproyeksinya kebutuhan modal dan patokannya di tanjakan ini bukannya pada saat normalisasi," katanya pada acara d'Mentor detikcom, Selasa (23/2/2021).

Menurutnya, pengusaha seharusnya memperhitungkan data saat normalisasi, bukan pada saat puncak penjualan. Jika tidak, maka balik modal akan lama sekali atau bahkan malah bisa rugi karena salah perhitungan.

"Salah satu kuncinya mesti bener-bener paham ada normalisasi. Awalnya nanjak terus dia ada normalisasi," ujarnya.

Sementara, terkait bisnis sifatnya musiman atau tahunan yang terpenting adalah pemetaan, kapan bisnis naik atau turun. Setelah itu perlu dilakukan pemetaan terkait manajemen biayanya. Sering kali, pengusaha ingin mengakomodir beberapa musim tapi tidak mengatur dengan cermat biaya maupun rekrutmen karyawannya.

"Jadi karyawannya banyak, tetap tahunan, jadi ada waktu-waktu di mana karyawan nggak keisi dengan job karena musimnya belum dateng tapi dia jalanin aja," ujarnya.

"Menurut saya harus lebih penting, pintar di strukturnya jadi misalnya di saat musimnya datang ya rekrut karyawan harian yang diperlukan. Pada saat musimnya nggak ada ya seperlunya aja," sambungnya.

Selain itu, tentu hal-hal seperti melakukan riset pasar, promosi dari beragam platform, menjaga stok barang, hingga inovasi perlu dilakukan agar menjaga bisnis bisa tetap bersaing dengan kompetitor lainnya.

Jangan lupa juga untuk berinvestasi alias putarkan kembali dana hasil usaha dari bisnis musiman tersebut untuk menjalankan bisnis musiman berikutnya.

(acd/eds)