Setahun Corona, Angka Pengangguran Nyaris 10 Juta Orang

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 02 Mar 2021 11:06 WIB
Suasana ibu kota tampak lengang dan sepi saat hari pertama penerapan Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Saat PPKM aktivitas warga dibatasi.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Pandemi COVID-19 sudah berjalan setahun di Indonesia, sampai saat ini masih ada dan dampaknya pun sangat besar khususnya pada sektor perekonomian nasional. Banyak perusahaan tutup yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) sehingga menambah jumlah pengangguran.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 29,12 juta orang yang terdampak pandemi Corona. Semua yang terdampak ini masuk ke dalam penduduk usia kerja. Dari angka tersebut, sebanyak 2,56 juta orang yang menjadi pengangguran karena COVID-19.

Sisanya sebanyak 0,76 juta orang bukan angkatan kerja karena COVID-19, sebanyak 1,77 juta orang sementara tidak bekerja karena Corona, dan sebanyak 24,03 juta orang bekerja dengan pengurangan jam kerja karena COVID-19.

"Terjadi disrupsi pada kondisi ketenagakerjaan akibat munculnya pandemi COVID-19," tulis data BPS yang dikutip detikcom, Selasa (2/3/2021).

Struktur ketenagakerjaan Indonesia per Agustus 2020, terdapat 203,97 juta orang dalam usia kerja. Dari sini, terdapat 138,22 juta orang merupakan angkatan kerja dan 65,75 juta orang merupakan bukan angkatan kerja.

Dari 138,22 juta angkatan kerja, tercatat 128,45 juta orang yang bekerja dan 9,77 juta orang merupakan pengangguran. Angka pengangguran ini tercatat naik 2,67 juta orang. Dilihat lebih rinci lagi, dari 128,45 juta orang yang bekerja, sebanyak 82,02 juta orang sebagai pekerja penuh, 33,34 juta orang sebagai pekerja paruh waktu, dan 13,09 juta orang sebagai setengah menganggur.

Dengan angka pengangguran yang tembus 9,77 juta orang, maka tingkat pengangguran terbuka (TPT) menjadi 7,07% atau naik dibandingkan Agustus 2019 yang sebesar 5,23%. Jika dilihat dari menurut tempat tinggal, pengangguran terbuka di perkotaan meningkat 8,98% dan perdesaan naik 4,71%.

Masih dari data BPS, TPT dari lulusan SMK sebesar 13,55%, sementara yang paling rendah merupakan lulusan sekolah dasar (SD) yaitu 3,61%. Sedangkan sisanya seperti sekolah menengah pertama (SMP) sebesar 6,46%, sekolah menengah atas (SMA) sebesar 9,86%. Lalu untuk lulusan diploma I-III sebesar 8,08% dan untuk lulusan universitas atau strata 1 sebesar 7,35%.

Jika dilihat dari menurut tempat tinggal, pengangguran terbuka di perkotaan meningkat 8,98% dan perdesaan naik 4,71%. Sedangkan menurut jenis kelamin, TPT laki-laki sebesar 7,46% atau lebih tinggi dibandingkan TPT perempuan yang sebesar 6,46%. Dibandingkan Agustus 2019, TPT laki-laki naik 2,13% dan perempuan naik sebesar 1,24%.

Selanjutnya pengangguran terbuka jika dilihat menurut kelompok umur, penduduk kelompok usia muda dari 12-24 tahun merupakan yang paling tinggi yaitu mencapai 20,46%. Sementara kelompok usia tua yaitu 60 tahun ke atas merupakan yang paling rendah yaitu 1,70%. Sementara TPT kelompok usia 25-59 tahun meningkat 5,04%.

Sementara TPT menurut provinsi, paling banyak di DKI Jakarta. Daerah yang dipimpin Anies Baswedan ini tingkat penganggurannya mencapai 10,95% pada Agustus 2020 atau di atas rata-rata nasional yang di level 7,07%.

Selain DKI Jakarta, BPS juga mencatat lima provinsi lainnya yang tingkap pengangguran terbukanya melewati rata-rata nasional. Yaitu, Banten, Jawa Barat, Kepulauan Riau, Maluku, dan Sulawesi Utara.

Tingkat pengangguran di Banten menjadi tertinggi kedua dengan 10,64%, disusul oleh Jawa Barat sebesar 10,46%, lalu Kepulauan Riau sebesar 10,34% lalu Maluku sebesar 7,57%, dan Sulawesi Utara sebesar 7,37%. Sementara provinsi yang TPT paling rendah adalah Sulawesi Barat yaitu sebesar 3,32%.

Simak juga Video: Menaker Beberkan Penyebab 247.000 Penyandang Disabilitas Menganggur

[Gambas:Video 20detik]



(hek/ang)