Batik Kayu Khas Bantul Tembus Pasar Malaysia dan Singapura

Inkana Putri - detikFinance
Kamis, 04 Mar 2021 13:34 WIB
Batik kayu Bantul
Foto: Inkana Putri/detikcom
Bantul -

Batik menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang saat ini kian mendunia. Keindahan dari ragam motif batik memang selalu memikat mata banyak orang. Saking indahnya, kini batik tak hanya dibuat menjadi kain atau pakaian saja melainkan juga furniture hingga souvenir.

Dusun Krebet di Pajangan, Bantul menjadi salah satu sentranya para perajin batik kayu. Di sini, batik memang tidak dilukis di atas kain melainkan di atas kayu. Itulah mengapa orang-orang menyebutnya dengan kerajinan batik kayu.

Panut Wibowo, salah satu perajin batik kayu Krebet mengatakan sejak dulu daerahnya memang telah menjadi sentra batik kayu. Hal inilah juga yang akhirnya membuat Panut ikut terjun menekuni kerajinan batik kayu secara otodidak.

"Kalau awal mula ada kerajinan di sini sekitar 80-an, tapi kalau saya di sini tahun 2012. Dulu batik itu cuma (diaplikasikan) di topeng, wayang, kain lama-lama berkembang jadi batik kayu untuk souvenir atau mebel," ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.

"Terus saya belajar dan berpikiran bagaimana mengembangkan usaha yang ada di kampung saya. Dan alhamdulillah hasil kerajinan dari kampung saya dikenal banyak orang dan bisa menyerap tenaga sekitar," imbuhnya.

Berkat ketekunannya, usaha batik kayunya pun telah laris di pasaran hingga tembus ke pasar Asia Tenggara, yakni ke Malaysia dan Singapura. Awalnya, teman Panut mendapatkan pesanan ke Malaysia dan sering mengambil barang untuk diekspor di tempatnya. Lama-lama, produknya sering mendapatkan pesanan untuk diekspor hingga ribuan pcs. Panutjuga sering mewakili Dinas Koperasi dan UMKM Bantul di Jakarta Convention Centre dan pameran di Malioboro Mall. Adapun produk yang paling digemari di pasar ekspor adalah kerajinan batik kayu berbentuk hewan.

"Produk saya selama 9 tahun sudah cukup lumayan banyak. Biasanya kalau ekspor itu di atas 100 pcs kebanyakan yang kecil-kecil. Pameran (juga) sering ikut mewakili dinas. Biasanya itu diekspor ke Malaysia dan Singapura," katanya.

Soal harga, Panut menyebut batik kayu buatannya juga dijual terjangkau bahkan bisa dibeli secara grosir. Dari sekian banyak produk batik kayu, dakon (congklak) dan gantungan kunci jadi yang paling laris.

Batik kayu BantulBatik kayu Bantul Foto: Inkana Putri/detikcom

"Harga produk gantungan kunci Rp 5.00, kaca Rp 10.000- Rp 50.000 yang paling besar. Pembatas surat Rp 15.000, tempat baca al-quran Rp 50.000, dan dakonnya Rp 75.000. Harga grosir, nanti ecer beda lagi. Yang paling laku dakon, sebelumnya gantungan kunci. Kebanyakan dijual di pusat wisata dan oleh-oleh," katanya

Dari penjualan batik kayu, Panut menyebut dirinya bisa meraup penghasilan kotor hingga Rp 20 juta per bulannya untuk penjualan sekitar 3.000 pcs di Indonesia. Namun, sejak pandemi penghasilannya menurun drastis hingga 1:10. Oleh karena itu, ia semakin giat memasarkan produknya secara online.

"Kalau sebelum pandemi penghasilan kotornya biasanya Rp 20 juta ke atas lah per bulan. Perputarannya sudah sangat bagus, tapi setelah pandemi ini cukup drastis. Karena kerajinan ini kan biasanya dibeli dari sekolah, turis, atau orang hajatan," jelasnya.

Meskipun omzet usahanya menurun, pemilik Toko Erlangga ini tak putus asa. Saat ini, Panut semakin menggiatkan pemasaran produknya secara online baik via Facebook, Instagram hingga marketplace.

Ia mengatakan dalam berbisnis batik kayu pasti ada naik turunnya, bahkan beberapa bisnis perajin lainnya dikatakan Panut ada yang tak berkembang. Dalam mengembangkan bisnisnya, Panut juga dibantu oleh pinjaman modal dari BRI.

Batik kayu BantulBatik kayu Bantul Foto: Inkana Putri/detikcom

Awalnya, Panut hanya bermodal Rp 500.000 untuk membeli satu batang kayu. Selebihnya, ia meminjam alat untuk membuat kerajinan batik kayu. Dari hasil coba-coba tersebut, Panut mengatakan batik kayu buatannya laku dan memutuskan untuk meminjam modal dari BRI.

"Tapi kalau saya kan istilahnya orang mencari rezeki tidak selalu harus banyak kadang sedikit. Dulu awal mula Rp 500.000 buat beli kayu terus alatnya pinjem. Kalau minjem modal BRI itu Rp 5 juta 7-8 tahun yang lalu terus saya kembangkan untuk bikin alat dan tambah alat. Saya udah 11 tahun usaha ini. Ada juga yang udah lama dari saya, tapi banyak yang udah nggak berkembang," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Gerabah Blitar Warisan Majapahit"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)