Sering Dianggap Sampah, Bonggol Pisang Bisa Datangkan Cuan

Inkana Putri - detikFinance
Jumat, 05 Mar 2021 11:19 WIB
Bonggol Pisang
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Mengolah pisang menjadi keripik mungkin sudah biasa. Namun, bagaimana dengan mengolah bonggol pisang menjadi camilan gurih nan lezat?

Bonggol pisang sering disebut sebagai sampah, bahkan di beberapa desa, bonggol pisang dibuat menjadi pakan ternak. Padahal, bonggol pisang sebenarnya bisa diolah jadi camilan yang lezat.

Seorang warga asal Bambanglipuro, Purwati (45) mengatakan di lingkungannya bonggol pisang dulunya dianggap sebagai makanan tak layak konsumsi. Meskipun begitu, Purwati berhasil menyulapnya menjadi inovasi keripik aneka rasa.

"Dulu itu (bonggol pisang) masih dianggap sampah, makanan nggak layak, buat pakan sapi. Kita (coba) buat produk yang berbeda berdasarkan pengalaman dari mbah saya yang terdahulu. Kan sebelumnya sudah ada yang pernah mengelola bonggol pisang untuk dijadikan lauk pauk. Jadi kami berpikir diolah jadi menu lain aja bisa apalagi keripik," ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.

Purwati menyebut dirinya mulai merintis bisnis bonggol pisang sejak tahun 2007. Adapun saat itu Purwati tak memiliki modal cukup untuk meneruskan usaha jualan kue sebelumnya. Saat itu, ia juga mengatakan di pasaran telah banyak produk makanan yang dijual. Hal inilah yang akhirnya membuat Purwati berpikir harus membuat inovasi makanan baru.

"Kalau memulai usahanya itu tahun 2007 tapi sebelumnya itu udah punya usaha yaitu (jualan) kue-kue basah, jajanan pasar. Kemudian waktu itu kan kena gempa pada tahun 2006, rumah roboh jadi kita belum bisa bangkit. Akhirnya kita memulai usaha dengan dengan bahan yang ada di sekitar kami, membuat bonggol pisang itu," paparnya.

Keripik bonggol pisangKeripik bonggol pisang milik Purwati (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Saat berinovasi membuat keripik bonggol pisang, Purwati pun tak hanya asal membuatnya. Ia juga bekerja sama dengan para instansi serta mencobanya berkali-kali terlebih dahulu. Purwati juga mendaftarkan usahanya ke Dinas Kesehatan Bantul untuk mendapatkan sertifikat P-IRT dan ke MUI untuk mendaftarkan kehalalan produknya.

"Kami mencoba melakukan kerja sama dengan UGM untuk meneliti apakah makanan itu layak untuk dimakan atau tidak, ada kandungan gizinya atau enggak. Dan setelah diteliti kandungan vitamin C nya lebih tinggi daripada jeruk. Kemudian ada protein, mineral dan seratnya sangat tinggi bagus untuk pencernaan. Akhirnya dari situ kami berani untuk memasarkan produk," ungkapnya.

Meskipun terdengar unik, membuat keripik bonggol pisang sebenarnya mudah, yakni dipotong, dicuci bersih, diberi tepung dan bumbu lalu digoreng. Untuk menghilangkan getah pada bonggol pisang, Purwati mengatakan dirinya menggunakan air kapur dengan merendamnya sekitar 30-60 menit.

Agar menambah varian rasa, Purwanti pun menambahkan penyedap rasa seperti balado, barbeque dan ekstra pedas. Adapun 1 pcs keripik bonggol pisang ia hargai Rp 15.000.

"Abis dipotong, direndam dulu pakai air kapur buat ilangin getah. Nanti baru digoreng pake tepun," jelasnya.

Dari olahan bonggol pisangnya, kini Purwanti bisa meraup cuan Rp 30 juta per bulan. Ia mengatakan sering kedatangan bus berisi wisatawan dari berbagai daerah. Bahkan satu wisatawan dapat membeli produknya hingga 70 pcs.

"Sebelum pandemi ozmet sampai Rp 30-50 juta per bulan. Kalau sebelum pandemi itu produksi kripik bisa sampai 15 kg satu harinya. Karena dulu kan suka dibeli sama pembeli yang di bus. Kalau satu bus kan isinya bisa sampai 60-70 orang. Satu orang bisa beli sampai 10-30 pcs kadang 70 pcs. Saya harus menyediakan 500 pcs satu minggu. Itu cuma buat tamu doang belum pembeli yang lain," katanya.

Tak hanya dapat cuan, Purwati mengatakan berkat inovasi olahan keripik bonggol pisangnya ini, ia dapat meraih penghargaan. Pada tahun 2015, dirinya mendapatkan penghargaan dari Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai produk inovatif. Sedangkan pada 2017 produknya dinobatkan sebagai produk berbintang tiga dari Kementerian Koperasi, UMKM & Perindustrian untuk jenis makanan ringan.

Produknya pun juga pernah dipercaya untuk dipamerkan ke Malaysia dan Thailand. Usai pameran, Purwanti mengatakan dirinya juga sering mendapatkan pesanan dari Malaysia.

"Jadi tahun 2018 kemarin kan kami mengikuti pameran di Malaysia dan Thailand, ternyata produk kami sangat diminati di sana karena belum ada produk seperti ini. Akhirnya kami mendapat kesempatan dari ibu bupati untuk pameran di sana bersama Dinas Perindagkop Bantul untuk pameran 3 hari di sana," jelasnya.

Meskipun telah sukses, Purwanti menyebut tak lupa dengan awal mula usahanya. Perkembangan usahanya hingga saat ini ia katakana tak lepas dari bantuan modal BRI.

"Saya awal mula modal Rp 500 ribu dari modal sendiri. Lalu, dulu pernah pinjem Rp 2 juta dari BRI sampai sekarang juga masih pinjem. Ini digunain buat beli bahan beli kemasan untuk menambah pasar. Kan kalau produksinya banyak saya jadi menambah pasar juga, jadi kan muter," paparnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Perjuangan Pengrajin Wayang Bantul"
[Gambas:Video 20detik]
(ncm/ara)