Persentase Pekerja Perempuan di Jepang Kalahkan AS dan Eropa, Tapi...

A - detikFinance
Selasa, 09 Mar 2021 10:23 WIB
Woman using laptop sitting at office
Foto: Thinkstock
Jakarta -

Jumlah persentase perempuan di angkatan kerja Jepang meningkat signifikan hingga melampaui Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Namun, menurut mantan Wakil Ketua dan ahli strategi di Goldman Sachs Jepang, Kathy Matsui posisi pimpinan perusahaan masih minim peran perempuan.

Mengutip dari CNBC, Senin (9/3/2021) Matsui mengungkap sebelum pandemi COVID-19, persentase perempuan Jepang yang bekerja melonjak mendekati 72% mendekati yang tertinggi. Dibandingkan dengan AS yang hanya sekitar 67% dan 63% di Uni Eropa.

Namun, posisi pimpinan perusahaan yang menjadi masalah. Sedikit peran perempuan di sana. Matsui mengatakan dalam posisi manajer saja hanya 15% dan posisi dewan direksi persentasenya hanya satu digit.

"Tapi yang paling mempengaruhi Jepang adalah masih kurangnya perempuan dalam posisi kepemimpinan Misalnya, rasio manajer perempuan masih tertahan di sekitar 15%. Dan persentase dewan direksi wanita masih dalam wilayah satu digit kurang dari setengah dari apa yang kami lihat di tempat lain di negara maju," katanya.

Menurut laporan Nikkei tahun lalu, perempuan menduduki kurang dari 8% posisi manajemen di perusahaan Jepang. Ini jauh lebih kecil dari target yang ditetapkan oleh pemerintah Jepang yang menargetkan agar perempuan menempati 30% posisi manajemen pada tahun 2020.

Matsui sendiri dikenal sebagai orang yang menciptakan istilah womenomics pada 1999. Istilah itu menjadi pilar utama reformasi ekonomi mantan Perdana Menteri Shinzo Abe yang bertujuan membantu Jepang meningkatkan ekonominya dengan membawa perempuan ke dalam angkatan kerja.

″Sejak kita membahas topik womenomics 22 tahun lalu, misalnya, persentase wanita Jepang yang bisa bekerja (dan) benar-benar bekerja di luar rumah dulunya adalah salah satu yang terendah di G-7, " kata Matsui.

Dia berharap peran pemerintah untuk membuka seluas-luasnya peluang kerja bagi perempuan bisa ditingkatkan. Kerja sama dengan perusahaan Jepang juga perlu lebih banyak.

"Saya pikir ada banyak tanggung jawab atau di pihak pemberi kerja juga, untuk mencari tahu bagaimana tidak hanya mengasuh para wanita ini tetapi juga memotivasi, mendorong, dan memberi mereka kesempatan yang setara dengan kolega pria mereka. Sehingga untuk mencapai tujuan perempuan yang lebih tinggi dalam peran kepemimpinan, " tambahnya.

(zlf/zlf)