Catat! 4 Kesalahan Berinvestasi yang Kerap Dilakukan Milenial

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Selasa, 09 Mar 2021 16:26 WIB
Jakarta -

Bukan lagi identik dengan kegiatan yang dilakukan orang tua, kini istilah investasi mulai familiar di telinga anak muda. Bahkan, investasi di kalangan anak muda makin populer dan menjadi tren tersendiri.

Andhika Diskartes yang merupakan seorang influencer sekaligus financial advisor mengatakan, sebetulnya hal ini sudah terjadi sejak 10 tahun yang lalu. Hanya saja, fenomena investasi menjadi semakin terasa dengan kehadiran media sosial yang bisa menyebarluaskan informasi dengan mudah ke semua kalangan.

"Orang yang menunjukkan portofolio di sosial media itu sebenarnya nggak hanya di tahun sekarang. 1 dekade yang lalu, memang beda platform, dulu belum ada TikTok. Tapi dulu sudah ada, kalau misalnya kita lagi nongkrong eh gue habis invest di sini, ini lho portofolionya. Dan itu sudah terjadi sejak lama," ujar Andhika dalam perbincangan podcast 'Tolak Miskin' bertajuk 'Siasat Cerdas Berinvestasi Pulihkan Negeri', Selasa (9/3/2021).

Lebih lanjut, Andhika menyebut ada banyak faktor yang mendorong generasi milenial untuk berinvestasi. Salah satunya adalah peran teknologi. Menurut Andhika, dengan teknologi yang canggih mempermudah masyarakat untuk melakukan aktivitas keuangan dengan lebih cepat. Selain itu, modal untuk berinvestasi pun tidak lagi semahal dahulu.

"Dan ketika sekarang, orang invest itu lebih mudah daripada zaman dulu. Dulu orang mau buka rekening investasi butuh waktu lama, butuh dana yang besar. Sekarang orang beli saham, beli reksadana sangat-sangat murah. Ini akan membuat hype instrumen investasi jadi lebih terasa," terangnya.


Adapun untuk jenis investasi yang ramai dilirik oleh milenial, antara lain investasi dana dalam bentuk mata uang kripto atau Cryptocurrency, seperti Bitcoin. Selain itu, banyak milenial yang mulai memilih investasi tradisional, di antaranya saham dan reksadana.

"Sekarang yang hype apa? Crypto currency, saham, reksadana. Urutannya gitu, di mana-mana semua ngomong. Jadi anak muda sekarang sangat banyak yang menaruh instrumen investasi di situ," paparnya.

Meski jumlah anak muda yang melek akan pentingnya investasi bertambah, namun Andhika menilai masih banyak dari mereka yang melakukan kesalahan sehingga investasi yang dilakukan tidak optimal. Ia mengatakan, milenilai sekarang cuma sekadar ingin ikut-ikutan tren investasi supaya dibilang kekinian. Tapi sebetulnya tidak punya tujuan jelas.

Padahal, dia menjelaskan menemukan instrumen investasi itu ibarat dengan obat. Semuanya harus berdasarkan kecocokan karena setiap orang punya kecocokan pada instrumen investasi yang berbeda-beda.

"Kembali lagi ke masing-masing individu. Misalnya beli reksadana, malamnya nggak bisa tidur karena takut besok reksadananya bermasalah atau takut turun. Berarti nggak cocok di situ. Jangan dulu di situ, turunin dulu levelnya, obligasi kah," paparnya.

"Atau kalau (investasi) reksadana tetap bisa tidur, naikkan ke saham. Masih bisa tidur, naikin. Itu beda-beda makanya," imbuhnya.

Tidak hanya itu saja, Andhika menyebut generasi muda saat ini maunya berinvestasi untuk mendapat untung cepat dan instan. Sehingga mengesampingkan tujuan awal dari investasi, yakni untuk jangka panjang. Bukan hanya satu atau dua bulan, tapi tahunan, karena kegiatan penanaman modal akan memberikan keuntungan maksimal apabila dilakukan dalam jangka panjang.

"Mereka berpikir, gue invest bulan depan gue cuan. Padahal ketika kita ngomong investasi, yang namanya investasi itu selalu membosankan. Jadi, lu kalau mau invest sabar. Kita nggak ngomong dalam satu bulan, dua bulan. Kita ngomong dalam tahun. Jadi kita nggak bisa men-justifikasi ketika kita invest, kita langsung cuan," jelasnya.

Lalu, kesalahan ketiga yakni tidak mempertimbangkan profil risiko. Sebagai pemula yang masih awam, Andhika menyarankan untuk paham dan mengenali profil risiko yang akan memberikan gambaran seberapa tahan kamu menghadapi penurunan dan instrumen apa yang cocok.

"Keamanan sebuah investasi, balik lagi ada risikonya. Dan risiko itu nggak cuma 1-2. Ada risiko market, ada risiko inflasi, dan itu harus diperbandingkan. Ada risiko profit juga. Artinya perbandingan antara 1 instrumen dengan instrumen lain,"pungkasnya.



"Nah ini harus hati-hati. Jadi mulai lah untuk belajar analisis. Karena banyak sekali kegagalan investasi karena kurang analisis,"imbuhnya.

Di samping itu, faktor emosional disebut menjadi salah satu penyebab kegagalan dalam berinvestasi. Oleh karena itu, Andhika berpesan untuk belajar mengelola kondisi emosional sebelum terjun ke dalam dunia investasi.

Sebab, agar mendapat hasil yang baik, emosi harus stabil dan terkontrol. Jangan terlalu terbawa euforia saat cuan, tapi juga tidak mudah marah saat nilai investasi anjlok dan merugi.

"Analisis itu 10 persen, 90 persennya adalah emosi. Sekeras apapun kita melakukan analisis, kalau emosinya nggak bisa terkontrol, (maka) sia-sia. Jadi selain analisis tadi, belajar lah mengontrol emosi," pungkasnya.

Sebagai informasi, podcast 'Tolak Miskin' merupakan program kerja sama BRI dengan detikcom. Kali ini, podcast 'Tolak Miskin' mengangkat tema 'Siasat Cerdas Berinvestasi Pulihkan Negeri' dengan narasumber Andhika Diskartes, seorang influencer dalam bidang financial advisor dan Suci Rahmawati, private banker BRI.

(ega/hns)