Modal Rp 800 Ribu, Pria Ini Bisa Cuan Ratusan Juta Berkat Bisnis Kopi

Inkana Putri - detikFinance
Senin, 15 Mar 2021 18:59 WIB
Bisnis kopi
Foto: dok. Tokopedia/Beskabean
Jakarta -

Kopi menjadi salah satu minuman yang hingga saat ini digemari banyak orang di dunia. Bahkan, kopi saat ini nampaknya semakin eksis termasuk di kalangan milenial.

Eksistensi kopi yang semakin meningkat menjadi peluang tersendiri bagi para pebisnis kopi. Seperti Founder Beskabean Coffee Roastery Hendra Susanto yang justru mendapat cuan dari bisnis kopi usai berhenti dari pekerjaannya.

Sebelum berbisnis kopi, Hendra mengaku awalnya sempat melakukan investasi bersama temannya. Sayangnya, investasi bernilai ratusan juta itu tak membawa hasil sehingga ia akhirnya memutuskan untuk berjualan susu kacang.

Jadi Beskabean ini kan fokus bisnisnya di roastery, lebih ke masak kopi. Awal mulanya itu tahun 2016, tapi sebelum ke kopi saya kerja di perusahaan Thailand 8 tahun di bagian quality control. Nah pas kondisi kesehatan gak mungkin karena sakit, saya resign dan mau gak mau harus hidupin keluarga. Akhirnya saya coba-coba invest uang dari pesangon kemarin, tapi investasi yang saya taro ke temen ancur semua gak ada yang balik. Lumayan hampir ratusan juga," ujarnya kepada detikco, Senin (15/3/2021).

"Dari situ saya coba-coba buka usaha jualan susu kedelai, kacang hijau dan kacang merah. Saya jual itu dulu nggak ada yang laku, tapi waktu itu saya dapat satu pelanggan dan kemudian nyebar dari mulut ke mulut," imbuhnya.

Meski usahanya cukup diminati para pembeli, Hendra menyebut bisnis susu kacangnya hanya bertahan satu tahun saja. Mengingat produksi susu kedelai dan kacang-kacangan cukup sulit didapat.

Sejak saat itu, Hendra memutuskan bergabung dengan program wirausaha Bank Indonesia pada tahun 2017. Dari sanalah ia mendapatkan masukan untuk banting setir membuka usaha kopi Semendo.

Bisnis kopiBisnis kopi Foto: dok. Tokopedia/Beskabean

"Saya masuk di wirausaha Bank Indonesia tahun 2017. Di situ di-coaching untuk masalah bisnis. Waktu di Bank Indonesia saya dikasih tau bisa nggak bisnisnya diubah ke yang lebih cepet hasilkan produk dan produknya tahan lama. Disuruhlah pindah ke kopi. Kebeneran waktu itu ada kopi Semendo, jadi saya ada temen petani kopi Semendo. Dari situlah kenalan dan bantu mereka beliin barang," ungkapnya.

Dengan modal sekitar Rp 800 ribu, Hendra akhirnya memberanikan diri untuk berjualan kopi. Tak hanya fokus di roastery, dirinya juga mulai merambah membuka kedai kopi. Hingga saat ini, Beskabean telah mempunyai 7 kedai, yakni 2 di Jakarta dan 5 di Palembang.

"Dari situ karena memang sisa uang tinggal Rp 800 ribuan, saya coba beli alat kuali untuk masak kopi, terus beli grinder dan timbangan yang murah. Nah di 2018 saya coba buka beberapa kedai, tapi nggak jalan mulus karena terkait masalah manajemen di SDM, akhirnya tutup. Tapi dari situ saya coba pelajari, dan coba buka lagi, lalu ganti tim dan benerin beberapa produk. Nah, akhirnya lumayan," jelasnya.

Meski bisnis kopinya saat ini lumayan laris, namun pemuda asal Palembang ini menjelaskan sempat mengalami penurunan omzet hingga 30 persen selama pandemi. Hendra yang dulunya bisa meraup cuan hingga Rp 60-70 juta per bulan, di awal pandemi ia harus mengalami penurunan omzet hingga 30%.

Untungnya, Hendra mengatakan telah lebih dulu mengantisipasi penurunan penjualan ini. Sejak awal COVID-19 mewabah di dunia, ia memutuskan untuk merambah bisnis online, yakni melalui Tokopedia. Menariknya, sejak menjual produknya secara online, omzet Beskabean kini telah melonjak hingga ratusan juta.

"Tapi pas COVID-19 awal kan wanti-wanti bakal penjualan turun. Akhirnya di bulan Januari saya buka toko di Tokopedia. Nah awal-awal masih belum ada penjualan, pertengahan tahun baru mulai ada penjualan pelan-pelan. Sampai di November itu masih drop pemasukannya di Rp 9 jutaan. Tapi di Desember 2020 - Januari 2021 kemarin di atas Rp 25 juta lebih. Sampai sekarang kita ada 1.600 produk terjual," katanya.

"Karena kita antisipasi untuk jual online sekarang kita lebih dari sebelum pandemi. Kalau normal dulu di sekitar Rp 60-70 juta sebelum pandemi, nah sekarang di atas Rp 120 jutaan," ujarnya.

Bisnis kopiBisnis kopi Foto: dok. Tokopedia/Beskabean

Tak hanya itu, kopi miliknya kini juga telah merambah hingga ke luar negeri seperti Australia, Singapura dan Jepang. Ia mengaku kesuksesan penjualan kopinya ini tak lepas dari karakter rasa yang jadi unggulan Beskabean.

"Untuk pengiriman ke luar negeri juga sudah ada, kita kemarin ke Australia. Terus ke Singapura, kita pernah juga pameran di sana dan satu lagi ke Jepang. Untuk Jepang itu lebih ke filter, di Singapura lebih ke robusta, Australia lebih senang ke espresso yang arabica," jelasnya.

Soal pemasaran online, Hendra menyebut dirinya memilih Tokopedia karena memberikan banyak keuntungan bagi UMKM di Indonesia. Menurutnya, Tokopedia menjadi salah satu marketplace yang mendorong UMKM dengan tidak memberikan banyak biaya pemotongan.

"Kita juga jual di beberapa platform lain, tapi di Tokopedia itu nggak ada gimmick dan potongannya lebih ringan. Tokopedia cuma ngambil biaya merchant dan itu nilainya nggak besar. Dan memang mereka gak ada permainan gimmick dan fair kalau ditotal per bulan juga gak sampai jutaan juga, jadi bantu meningkatkan UMKM," paparnya.

Soal bisnis kopi, Hendra ingin ke depan Beskabean dapat terus berkembang sehingga kesejahteraan petani kopi juga ikut maju. Ia juga berharap seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi, semakin banyak pula para petani yang lebih peduli untuk menghasilkan kopi yang lebih berkualitas.

"Kalau kopi ini kan pertumbuhan peminum kopi tiap tahun pasti naik, nah harapannya agar bisa dibarengi dengan tumbuhnya petani-petani yang lebih peduli dengan kualitas kopi di Indonesia. Karena kopi Indonesia kan bagus, beranekaragam dan unik. Karena kan kebanyakannya anak petani kopi banyak yang nggak mau melanjutkan bertani, jadi harapannya ke depan makin banyak petani-petani baru yang menanam kopi," pungkasnya.

(prf/hns)