Tesla Dituding Mata-matai China, Elon Musk: Jika Terbukti, Kami akan Tutup!

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 21 Mar 2021 10:29 WIB
Elon Musk founder, CEO, and chief engineer/designer of SpaceX speaks during a news conference after a Falcon 9 SpaceX rocket test flight to demonstrate the capsules emergency escape system at the Kennedy Space Center in Cape Canaveral, Fla., Sunday, Jan. 19, 2020. (AP Photo/John Raoux)
Foto: AP
Jakarta -

Elon Musk menampik isu bahwa mobil listrik buatan perusahaannya, Tesla digunakan untuk memata-matai China. Bahkan dia berjanji akan menutup bisnisnya jika tudingan itu benar.

Melansir BBC, Minggu (21/3/2021), pernyataan Elon Musk itu sebagai tanggapan atas laporan yang menyebutkan bahwa militer China telah melarang mobil listrik milik Tesla dari berada di fasilitas militer.

Militer China khawatir dengan kamera yang terpasang di dalam mobil listrik Tesla bisa dijadikan alat untuk mengumpulkan data dan informasi, sehingga membahayakan keamanan.

China sendiri merupakan pangsa pasar terbesar Tesla setelah Amerika Serikat. Seperempat penjualan mobil Tesla di 2020 berasal dari China.

Kemarin Elon Musk menegaskan, jika sebuah perusahaan melakukan kegiatan mata-mata terhadap pemerintah asing maka dampaknya akan sangat buruk bagi bisnis perusahaan.

"Ada dorongan yang sangat kuat bagi kami untuk merahasiakan informasi apa pun. Jika Tesla menggunakan mobil untuk memata-matai di China atau di mana pun, kami akan tutup," kata Musk dalam forum bisnis China.

Hubungan dagang yang memanas antara China dan AS memang menghadirkan ketidaknyamanan hadirnya perusahaan AS di China, begitu juga sebaliknya.

Awal pekan kemarin, para pejabat dari kedua negara juga sempat bersitegang dalam pembicaraan tingkat tinggi pertama antara pemerintah China dan pemerintahan Presiden AS Joe Biden.

Sebagai pengusaha Elon Musk pun mendesak rasa saling percaya yang lebih besar antara China dan AS. Dia berusaha untuk menghalau kekhawatiran atas perusahaan yang berbagi data sensitif dengan pemerintah mereka. Hal itu merujuk pada kasus platform video TikTok milik China.

Tahun lalu, mantan Presiden Donald Trump mengancam akan melarang TikTok di AS karena khawatir data pengguna dapat diserahkan kepada pemerintah China.

"Bahkan jika memang benar ada mata-mata, apa yang akan dipelajari negara lain dan apakah data itu benar-benar penting?" kata Musk.

Tesla sendiri telah mendapatkan persetujuan untuk mendirikan pabriknya di Shanghai sejak tahun 2018. Tesla menjadi pembuat mobil asing pertama yang mengoperasikan pabrik di China.

China adalah pasar mobil terbesar di dunia dan pemerintahnya gencar mempromosikan adopsi kendaraan listrik. Hal itu membantu Tesla menghasilkan keuntungan US$ 721 juta pada tahun 2020.

(das/zlf)