Stimulus Rp 27 Kuadriliun Dikucurkan, Ekonomi AS Jadi Ngacir?

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 24 Mar 2021 09:26 WIB
U.S. President Donald Trump announces Jerome Powell as his nominee to become chairman of the U.S. Federal Reserve in the Rose Garden of the White House in Washington, U.S., November 2, 2017. REUTERS/Carlos Barria
Jerome Powell/Foto: Reuters
Jakarta -

Dua juru kunci ekonomi di Amerika Serikat (AS) mengingatkan anggota parlemen bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan meskipun ekonomi AS membaik berkat stimulus yang telah digelontorkan.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen dan Gubernur The Fed Jerome Powell menekankan bahwa penderitaan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 akan lebih buruk jika tidak mengambil langkah cepat.

"Sementara kejatuhan ekonomi telah nyata dan meluas, yang terburuk dihindari dengan tindakan cepat dan kuat," kata Powell dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh The Fed dilansir CNN, Rabu (24/3/2021).

Namun dia juga menekankan bahwa pemulihan masih jauh dari selesai. Oleh karena itu bank sentral akan terus memberikan dukungan yang dibutuhkan untuk perekonomian.

Powell dan Yellen berbicara di depan Komite Jasa Keuangan DPR AS pada Selasa sore, dan keduanya akan bersaksi lagi di depan Komite Perbankan Senat pada Rabu pagi.

Sejumlah kebijakan ditambah paket stimulus US$ 1,9 triliun atau setara Rp 27,4 kuadriliun (kurs Rp 14.430) yang baru ditandatangani oleh Presiden AS Joe Biden dinilai telah membantu menstabilkan pasar kerja dan belanja konsumen.

"Pemulihan telah berkembang lebih cepat dari yang diperkirakan secara umum dan tampaknya akan menguat," kata Powell.

Powell mencatat bahwa pasar perumahan telah pulih dari penurunan permintaan. Belanja konsumen untuk barang-barang, investasi bisnis, dan produksi manufaktur juga meningkat.

Namun Yellen mendesak anggota parlemen untuk berbuat lebih banyak lagi.

"Kami bertemu pada saat yang penuh harapan untuk ekonomi, tetapi masih merupakan momen yang menakutkan. Sementara kami melihat tanda-tanda pemulihan, kami harus berhati-hati tentang lubang yang kami gali," kata Yellen kepada Kongres.

Dia mencatat bahwa negara Paman Sam masih kehilangan hampir 10 juta pekerjaan dari pra-pandemi dan bahwa masih ada berbagai dampak negatif akibat pandemi dalam perekonomian, termasuk jutaan orang yang terlambat membayar hipotek atau sewa, dan yang tidak memiliki cukup makanan untuk dimakan.

"Saya melihat data seperti ini, dan saya khawatir ekonomi COVID akan terus menyakiti jutaan orang sekarang dan menghantui mereka lama setelah keadaan darurat kesehatan selesai," kata Yellen.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Simak juga 'Pengangguran Membeludak, Stimulus 1,9 T Dolar AS Joe Biden Dinanti':

[Gambas:Video 20detik]