Utang Menggunung, Lampu Merah Buat BUMN Karya

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 25 Mar 2021 08:18 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Kondisi utang BUMN Karya perlu mendapat perhatian serius. Salah satunya pada PT Adhi Karya (Persero) yang utangnya melampaui batas wajar.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Deniey A Purwanto mengatakan, Adhi Karya memang memiliki utang yang relatif kecil dibanding BUMN karya lain. Namun, jika dilihat dari rasio utang terhadap ekuitasnya atau debt to equity (DER) maka Adhi Karya memiliki angka yang tinggi.

"Adhi Karya, walaupun relatif lebih kecil komposisi utangnya dibanding BUMN karya lain, kalau dilihat debt to equity rationya 5,76 kali, jadi utangnya 5,76 kali dari ekuitasnya. Ini sudah sebanarnya lampu merah lah untuk segera rmerestrukturisasi utang yang ada di BUMN karya," katanya dalam diskusi online Kinerja BUMN dan Tumpukan Utang, Rabu (24/3/2021).

Dia menjelaskan, jika melihat utang 4 BUMN karya yang akan direstrukturiasasi pemerintah utangnya, memiliki komposisi yang berbeda. Dari 4 BUMN, katanya, PT Waskita Karya (Persero) cenderung memiliki utang jangka panjang.

"Waskita Karya dia lebih banyak utang jangka panjang. Sementara 3 BUMN karya lainnya didominasi utang jangka pendek di mana, tentu saja konsekuensi komposisi utang jangka pendek dan panjang membutuhkan strategi kebijakan yang berbeda," ujarnya.

Namun, kata dia, sebagaimana disampaikan Kementerian Keuangan, BUMN karya ini ada yang mendekati dan ada yang melewati batas wajar. Sebagai tambahan, DER Waskita Karya 3,42 kali, PT PP (Persero) Tbk 2,81 kali dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 2,70 kali.

"Namun yang perlu menjadi catatan ini juga sudah disebutkan Kementerian Keuangan, bahkan untuk BUMN karya ini beberapa sudah hampir mencapai begitu paling tidak, atau sudah melewati beberapa batas wajar kalau dilihat debt to equtiy ratio, batas amannya gitu," katanya.

Simak juga video 'Utang Tembus Rp 6.000 T, RI Hampir Lampu Merah?':

[Gambas:Video 20detik]