Potensi Ekspor Tinggi, Mentan Sebut Porang Jadi Komoditas Mahkota RI

Nurcholis Maarif - detikFinance
Kamis, 25 Mar 2021 19:12 WIB
Mentan Syahrul Yasin Limpo
Foto: Dok. Kementan
Jakarta -

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebut porang adalah komoditas mahkota dari Indonesia. Sebab komoditas ini sudah diekspor ke 13 negara dan punya potensi besar di masa depan.

Hal itu diungkapkannya saat membuka talkshow komoditas porang yang memiliki potensi besar terhadap perkembangan ekspor produk pertanian nasional. Acara ini digelar di Auditorium Puslitbangtan, Cimanggu, Bogor, Jawa Barat.

"Saya ingin mengatakan bahwa diskusi porang ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi bangsa dan negara. Oleh karena itu kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik dari sisi sektor pertanian," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (25/3/2021).

Syahrul mengatakan komoditas porang saat ini semakin menggeliat dengan terus meningkatnya permintaan ekspor untuk bahan baku kosmetik lipstik sekaligus kebutuhan nutrisi yang bagus untuk ketahanan tubuh.

"Jadi tidak heran kalau saya bilang komoditas porang adalah komoditas mahkota. Bayangkan saja dalam 15 tahun ini baru pertama kali ekspor kita lebih dari 15,4 persen," ujarnya.

"Porang itu ekspornya tinggi dan yang sudah pesan sama kita ada 13 negara. Antara lain Tiongkok, Vietnam, Filipina dan lain sebagainya. Oleh karena itu bicara porang adalah bicara masa depan," imbuhnya.

Diungkapkannya, untuk mewujudkan peningkatan komoditas porang, saat ini pihaknya sudah mempersiapkan 5 cara bertindak atau yang lebih dikenal dengan istilah 5 CB.

CB 1 adalah mengembangkan kapasitas peningkatan produksi, CB 2 berkaitan dengan pangan lokal, CB 3 penguatan cadangan dan sistem logistik pangan, CB 4 pengembangan pertanian modern dan CB 5 adalah gerakan tiga kali ekapor (Geratieks).

Menurutnya, semua CB tersebut saat ini sudah dilaksanakan dengan sistem kerja extra ordinary serta penuh keyakinan dan optimisme untuk menjadikan pertanian Indonesia semakin diperhitungkan.

"Pertanian itu sudah di depan mata karena kita punya 270 juta penduduk yang semuanya sudah mengenal pertanian. Makanya tata kelolanya harus dipersiapkan. Sebab yang tidak boleh hilang adalah makanan," katanya.

Sementara itu Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan, Fadjri Djufri menambahkan bahwa saat ini pemerintah telah menyiapkan teknologi modern untuk mengakomodasi kepentingan produksi komoditas porang dari hulu sampai hilir.

"Bahkan sekarang kami sudah berhasil melepas Porang Madiun 1, sekaligus sedang melakukan identifikasi dan observasi untuk porang-porang unggul lainya. Alhamdulilah kami juga telah menemukan formula percepatan bibit porang yang lebih canggih lagi. Target kami tahun ini punya 10 juta benih. Tentu kita menggandeng pemerintah daerah, swasta dan pegiat porang lainya," katanya.

Ke depan, Fadjri mengaku sedang menyiapkan sistem pengolahan pascaproduksi seperti pengelolaan sistem porang untuk selanjutnya dijadikan tepung maupun chips.

"Kalau sudah diolah nilai jualnya juga tinggi. Inilah yang juga akan kami siapkan," tutupnya.

Turut hadir dalam diskusi itu di antaranya Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Fadjri Djufri serta sejumlah pegiat Porang lainya dari sejumlah daerah.

(akn/hns)