Mantan Dirut Bulog Ungkap Kampanye Sesat Importir Pangan

Deden Gunawan - detikFinance
Senin, 29 Mar 2021 14:35 WIB
Ketua Umum Perpadi (Persatuann Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras)
Foto: Screenshoot 20detik
Jakarta -

Sejak era Orde Baru Kementerian Pertanian telah memiliki peta jalan menuju swasembada aneka pangan. Tapi hal itu tak pernah terwujud karena kurang kuatnya komitmen politik di lapangan. Belum lagi kampanye sesat importir membuat Indonesia terus bergantung pada produk impor.

"Kalau komitmen politik pertaniannya mungkin sudah jelas karena undang-undangnya sudah ada. Tapi komitmen politik pelaksanaan di lapangannya yang tidak berjalan sesuai harapan," kata mantan Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso dalam program Blak-blakan di detikcom, Senin (29/3/2021).

Dia bercerita, saat menjabat Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, dalam setiap diskusi dengan pihak terkait kerap muncul ungkapan untuk memenuhi kebutuhan aneka pangan lebih mudah impor karena kualitasnya lebih baik ketimbang menanam sendiri.

Sutarto mencontohkan bagaimana para importir sering mengkampanyekan bahwa kedelai yang baik hanya yang tumbuh di negara beriklim sub tropis.
"Ada pula yang mendengungkan kalau kedelai dalam negeri tidak cocok untuk tempe, cocoknya hanya untuk tahu. Ini kampanye-kampanye yang menyesatkan," tegas pria yang sekarang menjabat sebagai Ketua Umum Perpadi (Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras) itu.

Selama 35 tahun berkarir di Kementerian Pertanian dia tahu kita punya berbagai varietas benih unggul. Di Aceh, misalnya, ada kedelai varietas kipas yang tingginya satu meter dengan batang sebesar jempol. Tapi tanaman unggulan ini sekarang justru makin sulit ditemui.

"Dia Aceh itu pernah ada lebih dari 100 ribu hektare tanaman kedelai. Sekarang mungkin tinggal lima ribuan, turun drastis. Bayangkan...," ujarnya.

Kampanye menyesatkan lainya, terkait soal jagung. Seharusnya kalau kualitas jagung di dalam negeri kurang baik ya dicari tahu apa sebabnya. "Kalau pengeringnya kurang baik ya pengering jagungnya harus diselesaikan bukan malah impor jagung," ujarnya.

Dia menyambut baik food estate di Kalimantan Tengah yang dirintis pemerintahan Jokowi. Dengan komitmen politik yang kuat di bidang pertanian, dia optimistis Indonesia tak perlu mengimpor banyak pangan.



Simak Video "Teaser Blak-blakan Sutarto Alimoesa: Impor Beras hingga Preman Sawah"
[Gambas:Video 20detik]
(ddg/zlf)