Sri Mulyani Sebut 2020 Ekonomi Terburuk Dalam 150 Tahun Terakhir

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 06 Apr 2021 14:19 WIB
Benjamin Franklin looking COVID-19 newspaper headlines on One Hundred Dollar Bill
Foto: Getty Images/iStockphoto/hamzaturkkol
Jakarta -

Pandemi COVID-19 yang terjadi di dunia membuat 170 negara mengalami kontraksi. Tak terkecuali Indonesia juga mengalami gangguan pada perekonomiannya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan buruknya kondisi perekonomian ini merupakan yang terparah sejak 150 tahun terakhir.

Dia menyebut dari berbagai statistik menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 ini memberi dampak yang luar biasa buruk bagi perekonomian. Hal ini karena semua negara dipaksa untuk mengambil kebijakan di saat dampak pandemi tidak hanya dari sisi kesehatan saja tetapi juga perekonomian.

"Berarti COVID-19 ini memaksa dan membuat semua negara harus memformulasikan kebijakan, tidak hanya di ekonomi tapi di kesehatan dan sosial," kata dia dalam diskusi online, Selasa (6/4/2021).

Indonesia juga melakukan kebijakan yang luar biasa demi menekan dampak pandemi ini. Tahun lalu pemerintah juga menerapkan Pembatasan Sosial berskala Besar (PSBB) yang menyebabkan ekonomi nasional kontraksi 5,32% pada kuartal II.

"Ini terbesar sejak krisis keuangan 1997-1998. Jadi kita termasuk dalam 170 negara yang mengalami kontraksi, sebab sepanjang 2020 kita kontraksi 2,07%," tambah dia.

Dia menyampaikan kontraksi ekonomi yang dialami Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain. Dibandingkan negara Asean, Filipina mengalami kontraksi paling dalam mencapai 9,6%, Singapura kontraksi enam persen, Malaysia kontraksi 5,8%.

"Poin saya, ini adalah situasi yang tidak pandang bulu. Tentu dengan adanya kontraksi ekonomi ada konsekuensi pada pengangguran, kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat," jelasnya.

Simak juga video 'Cerita Sukses Sri Mulyani Pimpin Kemenkeu hingga Bank Dunia':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/das)