Larangan Mudik Ganggu Stok Produk Makanan cs, Harga Naik?

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 12 Apr 2021 17:41 WIB
Jangan Tergiur! Ini 7 Trik Supermarket Agar Konsumen Belanja Lebih Banyak
Foto: Getty Images/iStockphoto/TAO EDGE
Jakarta -

Pemerintah melarang mudik Lebaran tahun ini. Pengusaha pun resah lantaran produk makanan dan minuman olahan mereka terancam menjadi stok mati.

Lantas bagaimana imbasnya ke konsumen? Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman menjelaskan para pengusaha makanan dan minuman olahan sudah merasakan adanya perbaikan dari sisi permintaan. Mereka meyakini industri ritel khususnya makanan dan minuman akan pulih tahun ini.

Hal itu menjadi dasar keputusan para pengusaha makanan dan minuman olahan untuk memasok bahan baku yang cukup banyak sejak Januari 2021. Tujuannya untuk mempersiapkan produksi menyambut Ramadhan tahun ini.

"Karena mulai Januari bahkan sudah ada ritel modern minta stoknya dikirim untuk puasa dan Lebaran. Ini ada harapan 2021, mudah-mudahan jangan sampai ada pelarangan (mudik)," ucapnya dalam acara diskusi virtual yang digelar FMB 9, Senin (12/4/2021).

Namun, keputusan larangan mudik sudah ditetapkan. Kebijakan itu membuat resah karena stok yang sudah dipersiapkan sejak lama dan sudah tersebar ke berbagai daerah akan menjadi stok mati.

"Kalau memang ada pelarangan, ya kita harus cari jalan keluar supaya stok yang sudah kita keluarkan tidak menjadi stok mati. Kita berharap ada strategi yang dijalankan," ucapnya.

Pengusaha pun memutar otak agar stok yang sudah disiapkan itu bisa terserap. Salah satunya membuat program untuk mendorong masyarakat yang tidak mudik mengirimkan makanan ke sanak saudara di kampung sebagai bentuk silaturahmi.

"Kami tentu bisa menyambut baik dengan layanan pengiriman," tambahnya.

Meski begitu, Adhi memastikan harga jual makanan dan minuman olahan tidak akan naik dalam waktu dekat, termasuk saat Ramadhan. Sebab para pelaku industri skala menengah dan besar masih memiliki kekuatan dana dan stok cadangan.

"Kalau industri menengah besar terutama anggota GAPMMI saya tanya, kami memilih tidak menaikkan harga. Meskipun bahan naik, kedelai, jagung, minyak goreng cabai dan daging sapi, ada kenaikan. Industri menengah dan besar punya daya tahan," terangnya.

Mereka memilih tidak menaikkan harga demi menjaga daya beli masyarakat, meskipun harga bahan baku juga sudah mulai naik. Menurut Adhi pengusaha lebih rela memangkas keuntungan demi penjualan terjaga, ketimbang kehilangan pembeli.

Bagaimana produk makanan dan minuman olahan dari IKM (industri kecil dan menengah)? Langsung klik halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2