2 Alasan Ongkos Haji Bakal Naik Jadi Rp 44,3 Juta/Jemaah

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 13 Apr 2021 17:51 WIB
Pemerintah dan DPR sepakat Ongkos Haji 2019 tak naik
Foto: Nadia Permatasari W
Jakarta -

Baru-baru ini ramai diisukan ongkos haji bakal naik tahun ini. Awalnya, berdasarkan usulan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), ongkos haji 2021 mau dinaikkan sebesar Rp 9,1 juta menjadi Rp 44,3 juta per jemaah.

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi pun buka suara terkait hal tersebut. Ia tak memungkiri bahwa rencana kenaikan ongkos haji 2021 memang tak dapat dihindari.

Ada beberapa faktor penyebab dibalik munculnya rencana itu. Pertama soal kuota jemaah yang ikut haji, protokol kesehatan, pajak tambahan dari Arab Saudi, dan perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Namun, untuk besarannya belum resmi diputuskan.

Ia menambahkan, sampai detik ini Kementerian Agama juga belum mendapatkan kepastian kuota yang akan diberikan oleh Arab Saudi untuk jemaah Indonesia. Dari aspek presentase kuota, Kementerian Agama telah menyusun skenario pelaksanaan haji tahun 2021 dengan asumsi kuota 100%, 50 %, 30%, 25%, 20%, 10% dan 5%.

"Seiring dengan berjalannya waktu, kami bersama DPR mulai mengerucut untuk membahas lebih mendalam skenario pelaksanaan haji dengan prosentase kuota 30% ke bawah," ujar Zainut dalam keterangan resminya yang diterima detikcom, Selasa (13/4/2021).

Kedua, soal kondisi saat ini, di tengah pandemi COVID-19 menjadi salah satu alasan terkait rencana kenaikan ongkos haji 2021.

"Karena akan berkonsekuensi dengan penerapan protokol kesehatan baik pada aspek kesehatan, akomodasi, dan transportasi yang harus disiapkan," jelasnya.

Zainut melanjutkan, bila opsi tak menaikkan ongkos haji 2021 yang dipilih, maka harus menambahkan subsidi bagi jemaah haji yang uangnya diambilkan dari nilai manfaat setoran awal jemaah.

"Tapi menurut saya itu tidak sesuai dengan prinsip keadilan," tegasnya.

Kementerian Agama juga sudah menyusun beberapa skenario penyelenggaraan haji pada masa pandemi. Skenario disusun utamanya berdasarkan aspek non ibadah dan ibadah.

Pada aspek non ibadah misalnya, asumsi jumlah kuota, penerapan protokol kesehatan, mobilitas jemaah di Tanah Suci, dan durasi masa tinggal jemaah.

"Sedangkan pada aspek ibadah haji di masa pandemi, kami telah melakukan Mudzakarah Perhajian pada pertengah bulan Maret 2021 serta pada minggu pertama bulan Ramadhan 1442H, kami merencanakan akan melaksanakan Bahtsul Masail membahas ketentuan syariat pelaksanaan haji di masa pandemi COVID-19," sambungnya.

(dna/dna)