Ramalan Ekonomi AS, China dan India, Siapa yang Juara?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 23 Apr 2021 10:48 WIB
The U.S. Capitol is seen between flags placed on the National Mall ahead of the inauguration of President-elect Joe Biden and Vice President-elect Kamala Harris, Monday, Jan. 18, 2021, in Washington.
Foto: AP/Alex Brandon
Jakarta -

Perekonomian Amerika Serikat (AS) diprediksi menguat pada kuartal II-2021 ini (April-Juni). Bahkan, Goldman Sachs mengatakan, perekonomian AS sedang memuncak, dan diperkirakan akan tumbuh hingga 10,5% pada kuartal ini dibandingkan tahun 2020 (year on year/yoy).

Perekonomian AS diprediksi akan mengalami peningkatan terkuat sejak 1978. Hal ini tercermin dari peningkatan aktivitas masyarakat yang pesat setelah kebijakan lockdown yang cukup lama.

Namun, Goldman Sachs juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS akan melambat alias loyo kembali di kuartal setelahnya, yakni kuartal III-2021 (Juli-September). Analis dari bank investasi tersebut memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS akan menurun secara berurutan selama beberapa kuartal berikutnya.

"Meskipun ekonom kami memperkirakan pertumbuhan PDB AS akan tetap di atas tren dan di atas perkiraan konsensus selama beberapa kuartal mendatang, mereka yakin laju pertumbuhan akan mencapai puncaknya dalam 1-2 bulan ke depan karena penurunan dari stimulus fiskal dan pembukaan kembali ekonomi mencapai maksimumnya. Itu akan berdampak, tapi kemudian mulai memudar," tulis pernyataan para Analis Goldman Sachs seperti yang dikutip dari CNN, Jumat (23/4/2021).

Di sisi lain, India sebagai negara yang kontribusi ekonominya besar terhadap dunia justru tengah mengalami gelombang ketiga pandemi COVID-19. Pemerintah pun terpaksa kembali menerapkan lockdown.

India melaporkan 295.041 kasus virus Corona dan 2.023 kematian pada Rabu, (21/4). Angka itu menunjukkan kenaikan tertinggi yang tercatat dalam satu hari sejak awal pandemi. Akibatnya, pemulihan ekonomi India diprediksi kuat akan tertunda.

Perdana Menteri India Narendra Modi telah mengimbau negara-negara bagian untuk menerapkan lockdown sebagai pilihan terakhir mereka. Ibu kota India, New Delhi kini juga menjalani lockdown yang ketat selama seminggu karena kapasitas rumah sakitnya mulai penuh.

JPMorgan memprediksi pertumbuhan ekonomi India dari yang semula 13,2% menjadi 11,2%.

Berbeda dengan China, kontributor ekonomi dunia terbesar lainnya justru bernasib baik. China baru saja membukukan pertumbuhan kuartalan terkuat dalam catatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Negeri Bambu tersebut dilaporkan telah berhasil mengendalikan wabah yang muncul kembali.

Namun, ada beberapa ekonom yang khawatir pemulihan ekonomi China mungkin akan mendatar. Pertumbuhan PDB hanya 0,6% pada kuartal I-2021 jika dibandingkan dengan tiga bulan terakhir tahun 2020.

"PDB riil di China melambat pada kuartal terakhir lebih tajam dari yang diharapkan dari lonjakan pada akhir tahun lalu," kata Kepala Ekonom JPMorgan Bruce Kasman.

(vdl/zlf)