Tragedi Kapal Selam Tenggelam Jangan Terulang, Ini Catatan Buat Pemerintah

Tim detikcom - detikFinance
Jumat, 30 Apr 2021 10:14 WIB
Kapal Selam Alugoro-405
Foto: Anggota Komisi I DPR RI Dede Indra Permana Sudiro (Istimewa)
Jakarta -

Empat hari sejak dilakukannya pencarian Kapal Selam KRI Nanggala-402, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudho Margono menyatakan KRI Nanggala-402 subsunk atau tenggelam dan kapal selam tersebut ditemukan terbelah menjadi tiga bagian.

Anggota Komisi I DPR RI Dede Indra Permana Sudiro pun turut berduka cita yang mendalam bagi 53 kesatria Tanah Air yang gugur dalam tugas mulia mengamankan wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Menurutnya, tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402 beserta seluruh awak kapalnya adalah tragedi dalam kemiliteran Republik Indonesia dan menjadi catatan sejarah yang tidak akan terlupakan.

"Mari kita panjatkan doa, semoga arwah 53 patriot bangsa diterima di sisi-Nya. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran serta ketabahan," ujar Dede, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, belum lama ini.

Ia mengatakan, tentunya di setiap tragedi patut ditelusuri segala faktor yang berpengaruh pada kejadian tersebut, tak terkecuali dalam kasus subsunk KRI Nanggala-402 kapal yang dibuat oleh Jerman pada 1979. Sebagai alat pertahanan dengan usia yang lebih dari 40 tahun, pemeriksaan kondisi secara menyeluruh terhadap semua variable adalah mutlak dilakukan sebelum unit dinyatakan siap untuk dioperasikan.

"Maka apabila ada pertanyaan, siapa yang bertanggungjawab pada tragedi tersebut? Sebaiknya yang bertanggungjawab adalah dua tingkat atasannya," ucapnya.

Kepala Kelompok Fraksi (Kapoksi) PDI Perjuangan (PDIP) di Komisi I DPR RIitu menambahkan, ketika negara sedang krisis pertanggungjawaban pemimpin, maka bagaimana dua tingkat atasan KRI Nanggala-402 menunjukkan tanggung jawabnya. Sebagai ilustrasi, ada seorang Dirut Pertamina dan Menteri ESDM bersama-sama menghadap Presiden Republik Indonesia untuk menyerahkan jabatannya akibat terbakarnya Kilang Minyak Cilacap. Walaupun pada akhirnya sang presiden waktu itu menolak pengunduran diri mereka.

"Siapa yang bertanggungjawab dan berani mengundurkan diri dari kejadian kapal selam KRI Nanggala-402? Rakyat Indonesia saat ini membutuhkan teladan sikap-sikap kesatria yang hari-hari ini dirasa meluntur," tegas anggota Banggar ini.

(dna/dna)