Ketua MPR Dorong Perdagangan RI-Turki Capai USD 10 Miliar di 2023

Faidah Umu Safuroh - detikFinance
Jumat, 30 Apr 2021 20:35 WIB
MPR
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendukung agar Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Turki (Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement/IT-CEPA) bisa segera diselesaikan pada 2021 ini. Hal itu sebagai tindak lanjut pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden Erdogan pada Juli 2017 di Turki, dalam meningkatkan perdagangan Indonesia-Turki mencapai USD 10 miliar pada 2023.

"Hingga September 2020, nilai perdagangan Indonesia-Turki mencapai sekitar USD 958.400. Sebelumnya, di tahun 2019, nilai perdagangan kedua negara mencapai USD 1,6 miliar," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (30/4/2021).

"Sejak 2015, Indonesia selalu menikmati surplus perdagangan. Pada 2019, surplusnya bahkan mencapai USD 1 miliar atau sekitar Rp 15 triliun. Melalui IT-CEPA, dengan salah satu poin pentingnya penghilangan bea masuk untuk ekspor dan impor beberapa komoditas dari kedua negara, diharapkan surplus Indonesia semakin meningkat," imbuhnya.

Hal itu diungkapkannya saat menerima kunjungan Duta Besar Indonesia untuk Turki. Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan melalui IT-CEPA, Indonesia akan tetap menjadi mitra strategis bagi Turki dalam menjangkau pasar ASEAN yang memiliki market penduduk mencapai 625 juta jiwa atau 8,8 persen penduduk dunia. Sebaliknya, Indonesia juga tetap menjadikan Turki sebagai negara kunci dalam menjangkau pasar Timur Tengah dan Eropa.

"Ekspor unggulan Indonesia ke Turki antara lain produk berbahan baku karet alam, minyak hewani dan nabati, serat tekstil buatan tangan, pita buatan tangan, serat tekstil, karet, dan produk karet," ujarnya.

"Sedangkan ekspor utama Turki ke Indonesia antara lain produk berbahan besi dan baja non-paduan, tembakau dan produk tembakau, produk kimia organik, karpet, serat tekstil dan produknya, serta sereal dan produk sereal," jelasnya.

Ia juga menyoroti progres penanganan pandemi COVID-19 yang dilakukan pemerintah Turki. Hingga pertengahan April 2021, dari sekitar 83,6 juta penduduk, Turki telah menyuntikkan lebih dari 20 juta dosis vaksin COVID-19 ke warganya. Jumlah warga yang sudah menerima dosis pertama mencapai 12 juta orang, termasuk Presiden Erdogan yang telah disuntik vaksin Sinovac pada 15 Januari 2021.

"Data Worldometers mencatat, per 28 April 2021, jumlah warga Turki yang terkena COVID-19 mencapai sekitar 4,7 juta jiwa, tertinggi ke-6 dunia setelah Amerika Serikat, India, Brazil, Perancis, dan Rusia," sorot Bamsoet.

Ia menambahkan pada 16 April 2021 kasus harian di Turki mencapai puncaknya, sekitar 63 ribu warga terkena COVID-19. Untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19, sekitar dua minggu lalu pemerintah Turki memberlakukan jam malam mulai pukul 19.00 hingga 05.00 waktu setempat. Mulai 29 April hingga 17 Mei 2021, ditingkatkan dengan menerapkan lockdown.

"Sama halnya seperti Indonesia dan negara dunia lainnya, Turki juga masih berperang menghentikan penyebaran virus COVID-19. Sebagai sahabat, kita berharap Turki bisa segera keluar dari pandemi COVID-19, begitu pun dengan Indonesia. Sehingga people to people contact melalui perjalanan wisata dan pendidikan antar penduduk kedua negara bisa kembali menggeliat," pungkas Bamsoet.

(ncm/hns)