Sampai Kapan RI Mau Impor Kedelai?

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 03 Mei 2021 11:47 WIB
Kemandirian Kedelai, Gizi dan Penurunan Kemiskinan
Foto: detik
Jakarta -

Memasuki bulan April 2021 lalu, harga kedelai global kembali naik. Seperti disampaikan Kementerian Perdagangan yang melansir data Chicago Board of Trade (CBOT) pada 1 April 2021 lalu, harga kedelai dunia untuk penyediaan April 2021 berada di kisaran US$ 14,33 per gantang, terdapat kenaikan harga di kisaran 3,69% dari penyediaan Maret 2021 yang sebesar US$ 13,82 per gantang.

Bahkan berdasarkan data tradingeconomics.com, per 1 Mei 2021 harga kedelai sudah kembali naik menjadi US$ 15,52 per gantang. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memang telah memprediksi bahwa kenaikan harga kedelai masih bisa terjadi hingga Mei tahun ini. Tingginya permintaan kedelai dunia menjadi penyebab utama kenaikan harga. Beruntung kenaikan harga yang terjadi kemarin ini tak sampai menimbulkan gejolak harga di dalam negeri.

Disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Syailendra pernah mengatakan pemerintah bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan di industri kedelai berkomitmen menjaga harga kedelai impor di tingkat pengrajin tahu dan tempe di kisaran Rp9.750-Rp9.900/kg. Sementara harga di tingkat gudang importir akan dijaga di kisaran Rp9.200-Rp9.300/kg.

Lewat upaya ini maka harga tahu masih terus stabil di kisaran Rp650 per potong dan harga tempe di kisaran Rp16.000 per kg. "Meski saat ini terjadi sedikit kenaikan harga kedelai dunia, Kemendag menjamin stok kedelai penyediaan April 2021 masih cukup untuk memenuhi kebutuhan industri pengrajin tahu dan tempe nasional dengan harga yang stabil dan terjangkau," ujar Syailendra.

Menanggapi kenaikan kembali harga komoditas kedelai di pasar global, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah mengatakan, harga kedelai di pasar domestik dipastikan masih akan tetap fragile mengikuti perkembangan dinamika di pasar global.

"Kita sejauh ini masih tergantung pada pasokan kedelai impor, sehingga wajar saja jika harga di pasar domestik masih akan fragile(terhadap kenaikan harga)," ujar Rusli.

Menurut Rusli, penggunaan dan konsumsi kedelai hasil impor sejauh ini masih menjadi pilihan karena sejumlah faktor yang mempengaruhi. Salah satunya adalah rendahnya minat para petani untuk mengembangkan kedelai di lahan mereka, lalu perbedaan kualitas kedelai yang diproduksi di Tanah Air dibandingkan kedelai impor untuk dijadikan produk akhir seperti tahu dan tempe.

Rusli sepakat bahwa Indonesia harus mengendalikan ketergantungan pada kedelai impor. Sehingga dibutuhkan sejumlah langkah strategis untuk memperluas budi daya kedelai di Tanah Air, dan berikutnya mengurangi tingkat ketergantungan pasar domestik terhadap kedelai impor. Apalagi sejumlah penelitian telah mampu menghasilkan varietas-varietas kedelai unggul yang bisa ditanam di dalam negeri, dan tidak berbeda dengan kualitas kedelai impor.

"Namun untuk bisa switching atau beralih dari produk impor ke produk lokal, kita membutuhkan jalan yang panjang. Banyak sekali yang harus dikerjakan pemerintah. Misalnya menyiapkan lahan, membuat petani berminat terhadap komoditas, menciptakan harga yang sesuai, termasuk persoalan tata niaga. Dibutuhkan waktu tak sebentar untuk mengurainya, dan memulai produksi kedelai lokal secara masif," kata Rusli.

Selanjutnya
Halaman
1 2

Tag Terpopuler