Kuartal I Diprediksi Masih Minus, Kapan RI Keluar dari Resesi?

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 04 Mei 2021 15:30 WIB
Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menghadapi ancaman pandemi COVID-19. OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 4,9% di tahun 2021.
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Perekonomian Indonesia akan tetap masuk jurang resesi pada kuartal I-2021. Kementerian Keuangan memprediksi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran minus 1% sampai 0,1%, sementara Bappenas memprediksi di kisaran minus 0,6% sampai 0,9%.

Dengan begitu, maka ekonomi Indonesia masih berada di jurang resesi sejak kuartal II-2020 sampai kuartal IV-2020 berada di level negatif, yaitu minus 5,32% di kuartal II-2020, lalu minus 3,49%, dan kuartal IV minus 2,19%.

Resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi minus dua kuartal berturut-turut. Kapan ekonomi Indonesia bisa keluar dari resesi?

Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan ekonomi Indonesia akan berada di level positif pada kuartal II-2021. Dia memperkirakan angka pertumbuhannya berada di kisaran 6% atau lebih tinggi dari kuartal sebelumnya dan kuartal II-2020.

"Baru di kuartal II, positifnya akan tinggi. Saya pikir akan di atas 5%, karena tahun lalu itu kan minusnya di angka 5%. Pemerintah sendiri ke arah 7% bahkan ada yang bilang 8%. yaitu bisa tercapai, konservatifnya bisa di angka 6%," kata David saat dihubungi detikcom, Jakarta, Selasa (4/5/2021).

Dia menyebut, tingginya pertumbuhan pada kuartal II-2021 dikarenakan basis perbandingan tahun sebelumnya yang sangat rendah. Diketahui, realisasi kuartal II-2020 sebesar minus 5,32% menjadi basis terendah pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu.

Meski sudah mampu tumbuh di atas 5%, David menilai ekonomi nasional masih belum sepenuhnya normal. Sebab beberapa indikator perekonomian masih terdampak, seperti mobilitas masyarakat yang dibatasi sehingga berdampak pada tingkat konsumsi rumah tangga.

"Mudah-mudahan pengendalian COVID tetap konsisten apalagi ada kasus dari India, itu juga mungkin perlu kehati-hatian, karena kalau sudah merebak akan ganggu jalur pemulihan kita," ungkapnya.

Sementara itu, peneliti dari CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan pemerintah sudah melakukan percepatan berbagai program yang nantinya berkontribusi besar dalam pembentukan domestik bruto (PDB). Salah satunya adalah program pencairan bantuan sosial (bansos) baik yang tunai maupun sembako.

Bahkan, dikatakan Yusuf, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi di level 7% pada kuartal II-2021 bisa dilakukan dengan berbagai upaya.

"Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi untuk bisa tetap tumbuh di level 7%, kuncinya sebenarnya ada pada konsumsi rumah tangga, dan untuk mendorong daya beli maka tentu proporsi bantuan yang berkaitan daya beli perlu dipertimbangkan untuk kembali ditingkatkan/atau dilanjutkan seperti misalnya BST untuk kelas menengah," kata Yusuf.

(hek/ara)