Sritex Buka-bukaan soal Gagal Bayar Bunga

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 06 Mei 2021 14:50 WIB
Pabrik Sritex di Sukoharjo, Jawa tengah
Foto: Dewi Rachmat Kusuma
Jakarta -

PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) buka suara terkait dengan penurunan peringkat jangka panjang issuer default rating (IDR) yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat gobal, Fitch Rating. Peringkat jangka panjang emiten tekstil dan garmen ini turun menjadi RD atau restricted default dari sebelumnya C.

Manajemen Sritex mengaku sudah mengirimkan surat kepada Facility Agent terkait kesediaan Perseroan membayar biaya bunga utang atas pinjaman sindikasi dengan permintaan persyaratan di mana manajemen menunggu konfirmasi sebelum membayar.

"Sampai saat ini Perseroan belum mendapatkan konfirmasi tersebut," kata Direktur Keuangan SRIL Allan Moran Severino seperti yang dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Kamis (6/4/2021).

Mengutip CNBC Indonesia, Sritex tidak memenuhi pembayaran bunga jatuh tempo sekitar US$ 850.000 atau setara dengan Rp 11,9 miliar (kurs US$ 1 = Rp 14.000) atas pinjaman sindikasi senilai US$350 juta atau Rp 4,9 triliun, yang jatuh tempo 23 April 2021. Sementara itu, bank tidak melakukan rollover (memperpanjang jatuh tempo) pinjaman revolver yang jatuh tempo pada hari yang sama.

Informasi saja, pinjaman revolver/revolving secara sederhana merupakan fasilitas pinjaman jangka pendek yang dapat diperpanjang.

Penurunan rating ini terjadi setelah berakhirnya cure period 5 hari kerja sejak 23 April 2021, setelah Sritex tidak melakukan pembayaran bunga atas pinjaman sindikasi perusahaan.

Dilansir dari ensiklopedia ekonomi, cure period merupakan jangka waktu yang diberikan kepada pihak yang gagal memenuhi kewajiban tertentu dan mencoba memperbaikinya. Contohnya, ketika suatu perusahaan membayar bunga suatu pinjaman.

Peringkat Nasional 'RD' mencerminkan penerbit mengalami gagal bayar obligasi tanpa jaminan, pinjaman atau kewajiban keuangan material lainnya tetapi belum mengajukan kebangkrutan, administrasi, penerimaan, likuidasi atau prosedur penutupan formal lainnya, dan yang tidak berhenti beroperasi.

Dalam kamus Fitch, rating RD berada tepat di atas rating D atau default (wanprestasi) alias gagal bayar.

Perseroan mengakui adanya penurunan raing menjadi RD. Namun pihaknya belum bisa melakukan pembayaran lantaran belum mendapatkan balasan informasi dari facility agent.

"Masih menunggu konfirmasi dari facility agent," tulis keterbukaan informasi.

Manajemen memastikan penurunan peringkat menjadi RD ini berdampak pada keuangan Sritex yang mana kesulitan dalam mendapatkan fasilitas perbankan dan pasar keuangan. Selanjutnya, berdampak pada sisi operasional karena terbatasnya pendanaan.

Selanjutnya dampak hukum juga ada yaitu dapat terjadi tuntutan percepatan pembayaran, dan dampak kelangsungan usaha yang bergantung pada dampak-dampak sebelumnya.

Simak juga 'Kemensos Beberkan PT Sritex Jadi Vendor Goodie Bag Bansos':

[Gambas:Video 20detik]



(hek/zlf)