Jakarta Bakal Tenggelam 2050, Pengamat: Sudah Diperkirakan

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 14 Mei 2021 18:00 WIB
Sejumlah warga beraktiftas di kawasan Pantai Marunda yang terdampak Rob, Selasa (3/12). Kota Jakarta diprediksi akan tenggelam di tahun 2050, atau bahkan lebih cepat. Beberapa kajian menyebutkan bahwa di Jakarta Utara penurunan permukaan tanah mencapai 7,5-18 cm per tahun.
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Ramalan DKI Jakarta sebagai kota yang akan tenggelam di tahun 2050 muncul lagi. Kini berasal dari laporan Konsultan risiko Verisk Maplecroft, seperti dikutip dari Time, Jumat (14/5/2021).

Verisk Maplecroft melaporkan DKI Jakarta sebagai kota yang paling cepat tenggelam. Masih dari laporan tersebut, mencatat dari 100 kota terdapat 99 kota di antaranya berada di Asia, sementara Eropa menjadi rumah bagi 14 dari 20 kota teraman.

Pengamat Tata Kota, Yayat Supriyatna mengatakan ramalan DKI Jakarta sebagai kota yang akan tenggelam bukan pertama kali dilakukan. Menurut dia, sudah banyak para peneliti bahkan dari tanah air pun pernah merilisnya.

"Sebetulnya ini sudah lama diramalkan, bahkan kajian peneliti Indonesia pun sudah memperkirakan itu, ada yang bilang 2045, ada yang bilang 2050 potensi kenaikan airnya itu sampai Monas dan sekitarnya," kata Yayat saat dihubungi detikcom.

Dia menyebut rata-rata kajian menyebut, DKI Jakarta sebagai kota yang berisiko cepat tenggelam karena naiknya permukaan laut dan menurunnya permukaan tanah akibat penggunaan air tanah yang sampai saat ini masih dilakukan.

Dia menyebut, penggunaan air tanah di wilayah ibu kota masih dilakukan oleh masyarakat hingga gedung-gedung pencakar langit, seperti kantor hingga pusat perbelanjaan.

"Sebetulnya penurunan permukaan tanah dan kenaikan permukaan air laut, pengambilan air tanah mempercepat (Jakarta tenggelam)," ujarnya.

Oleh karena itu, dirinya meminta pemerintah pusat dan pemerintah provinsi segera mengambil upaya seperti membangun moratorium pengambilan air tanah dan segera merealisasikan proyek pembangunan tanggul pengaman pantau atau giant sea wall di wilayah Jakarta Utara.

Dia menjelaskan, pemerintah juga harus memiliki skenario untuk pengendalian air tanah di wilayah utara Jakarta. Wilayah tersebut menjadi yang paling rawan tenggelam akibat penggunaan air tanah.

"Jadi artinya jangan ada pengambilan air tanah di zona yang sudah kritis, khususnya Jakarta Utara, Jakarta Pusat itu wilayah yang terus menerus mengalami penurunan signifikan," ungkapnya.

(hek/eds)

Tag Terpopuler