RI Rajin Impor Kurma dari Palestina, Tapi Masih Banyakan Kiriman AS

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 17 Mei 2021 14:15 WIB
Pedagang merapikan buah kurma yang dijual di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (16/5). Menjelang Ramadan, impor kurma mengalami peningkatan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan impor kurma mencapai 49,39%.
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Indonesia dengan Palestina memiliki hubungan dagang yang baik. Palestina bahkan masuk ke dalam 10 daftar negara pemasok kurma ke Indonesia.

Neraca perdagangan Indonesia dengan Palestina tercatat masih surplus. Sejak tahun 2016-2020, nilai surplusnya sebesar US$ 7,6 juta. Angka tersebut berasal dari total ekspor yang mencapai US$ 11,96 juta dan impornya sebesar US$ 4,36 juta.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip, Senin (17/5/2021), total nilai impor kurma mencapai US$ 42,3 juta pada kuartal I-2021 atau selama tiga bulan pertama di tahun ini.

Rinciannya, nilai impor kurma yang dilakukan Indonesia selalu meningkat dari US$ 10,3 juta di Januari, lalu US$ 14,9 juta di Februari, dan US$ 17,1 juta di Maret.

Sebanyak 10 negara eksportir kurma ke Indonesia pada Maret tahun ini yaitu, Egypt dengan nilai US$ 4,9 juta dan berat 4.522 ton. Egypt menjadi negara terbanyak yang ekspor kurma ke Indonesia pada bulan Maret 2021.

Tunisia, nilainya US$ 4,3 juta dengan volume sebanyak 1.302 ton. Arab Saudi, nilainya US$ 3,4 juta dengan volume 3.181 ton. UEA, nilainya US$ 1,4 juta dengan volume 816 ton. Iran, nilainya US$ 1,2 juta dengan volume 1.061 ton.

Selanjutnya, Amerika Serikat (AS) nilainya US$ 490 ribu dengan volume 41 ton. Algeria, nilainya US$ 651 ribu dengan volume 319 ton. Palestina, nilainya US$ 322 ribu dengan volume 39 ton. Jordan, nilainya US$ 78 ribu dengan volume 30 ton.

Kemudian Nambia, nilainya US$ 93 ribu dengan volume 42 ton. Sementara lainnya tercatat US$ 68 ribu dengan volume 66 ton kurma.

Tonton juga Video: Borong Aneka Kurma untuk Buka Puasa

[Gambas:Video 20detik]



(hek/eds)