AS-China Rebutan Bangun Infrastruktur, Harga Material Meroket!

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 20 Mei 2021 09:15 WIB
AS dan China: Mengapa hubungan mereka lebih dari sekadar Perang Dingin kedua?
Ilustrasi/Foto: BBC World
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) dan China tengah berlomba merebut komoditas untuk membangun ekonomi mereka setelah pandemi. Hal ini mendorong harga komoditas naik tinggi dan mengancam rencana pemulihan ekonomi Beijing.

Dikutip dari CNN, Kamis (20/5/2021), biaya yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur pasca pandemi di China, dari baja, batu bara hingga kaca dan semen mengalami lonjakan. Baru-baru ini, harga tulangan sejenis baja untuk memperkuat beton mencapai 6.200 yuan (US$ 965) per metrik ton di Shanghai. Harga tersebut telah naik 40% tahun ini dan rekor tertinggi baru.

Harga bijih besi untuk membuat baja telah mencapai 1.240 yuan (US$ 194) per metrik tondi Dalian Futures Exchange, naik 25% sejak awal tahun.

Batu bara termal, kaca dan aluminium juga mencapai titik tertinggi sepanjang masa di China. Kondisi ini membuat para pemimpin China mengingatkan soal kerusakan ekonomi.

China merupakan satu-satunya negara dengan ekonomi terbesar yang lolos dari resesi tahun lalu saat pandemi melanda. Namun, China meluncurkan rencana infrastruktur senilai US$ 500 miliar untuk mendukung pemulihannya dari tingkat pertumbuhan paling lambat dalam beberapa dekade.

Konstruksi juga merupakan bagian dari pemulihan ekonomi di AS dan mungkin akan segera dipercepat. Presiden AS Joe Biden pada Maret mengusulkan rencana infrastruktur sekitar US$ 2 triliun yang bertujuan membantu negara pulih dari pandemi Corona dan membentuk kembali ekonomi AS untuk melawan kebangkitan China.

Washington memiliki tantangan untuk dihadapi, seperti penuaan, infrastruktur rentan yang merupakan bagian dari sistem kritis negara, dan politik yang mungkin menyebabkan rencana Biden terhenti di Kongres.

Tetapi China juga memiliki alasan untuk khawatir tentang biaya yang meroket. Indeks harga produsen China, yang mengukur perubahan biaya yang dibayar produsen untuk material naik 6,8% di bulan April dari tahun sebelumnya. Meskipun itu agak terdistorsi, mengingat dampak pandemi COVID-19 pada tahun 2020, itu masih merupakan lonjakan tercepat sejak Oktober 2017. Ini juga merupakan lompatan besar dari kenaikan 4,4% di bulan Maret.

"Harga komoditas global naik karena stimulus oleh negara-negara besar mendorong permintaan," kata Zhou Hao, ekonom senior pasar berkembang untuk Commerzbank.

"Amerika Serikat dan China keduanya adalah penggeraknya," tambahnya.

(acd/eds)