ADVERTISEMENT

3 Fakta RI Impor Senapan hingga Meriam dari Israel

Hendra Kusuma - detikFinance
Sabtu, 22 Mei 2021 07:30 WIB
Sanggar, Foto-foto Anggota Boogaloo Bois

Jelang pelantikan presiden terpilih AS, Joe Biden sejumlah anggota Boogaloo Bois terlihat berkeliaran dengan mengunakan senjata lengkap.
Ilustrasi/Foto: pool
Jakarta -

Indonesia tercatat mengimpor senjata dari Israel. Setidaknya hal tersebut dilakukan pada tahun 2020. Indonesia juga telah menjalin hubungan dagang cukup lama dengan negara yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu tersebut.

Selain senjata, Indonesia juga mengimpor beberapa produk lainnya. Meski begitu, neraca perdagangan Indonesia terhadap Israel surplus. Begini fakta-faktanya:

1. Nilainya Rp 19 M

Mengenai barangnya, Indonesia mengimpor cukup banyak dari Israel salah satunya adalah senjata yang senilai US$ 1,32 juta atau Rp 19,1 miliar (kurs Rp 14.500) pada tahun 2020. Secara volume, senjata impor asal Israel ini mencapai 2,67 ton. Adapun senjata yang diimpor ini ada beberapa macam sesuai dengan kode Harmonized System (HS).

Kode HS 93011000, berupa senjata artileri seperti senapan, mortir, dan meriam howitzer. Nilai impornya mencapai US$ 1,28 juta. Kode HS 93051000 berupa suku cadang dan aksesori revolver serta pistol. Nilai impornya mencapai US$ 3.756.

Selanjutnya, ada kode HS 93059999 berupa suku cadang dan aksesori revolver serta pistol heading 9302 dari kulit/tekstil lainnya. Nilai impornya mencapai US$ 41.091.

2. Produk Lainnya

Selain senjata, Indonesia tercatat mengekspor banyak produk ke Israel. Indonesia banyak mengekspor pakan babi pada tahun 2020, nilainya mencapai US$ 11,01 juta.

Jika dilihat lebih detail lagi, angka ekspor pakan babi ke Israel ini meningkat 103% dibandingkan tahun 2019 yang nilainya sebesar US$ 5,4 juta.

Sementara nilai ekspor pakan babi ke Israel pada kuartal I-2021, BPS mencatat nilainya US$ 1,04 juta. Selain itu, produk lain yang ekspor adalah mentega coklat nilainya US$ 10,29 juta atau melambat dibandingkan tahun 2019 yang sebesar US$ 12,92 juta dan pada tiga bulan pertama di tahun 2021 senilai US$ 2,28 juta.

Ada pula beberapa produk yang diekspor lainnya antara lain serat stapel dengan nilai US$ 9,02 juta pada tahun 2020 dan US$ 7,59 juta pada tahun 2019. Sementara kuartal I-2021 senilai US$ 2,22 juta. Lalu ada karet alam senilai US$ 5,51 juta di 2019, dan angkanya turun di tahun 2020 menjadi US$ 5,26 juta. Sementara di kuartal I-2021 baru sebesar US$ 1,28 juta.

Indonesia juga mengekspor mentega putih atau shortening senilai US$ 3,75 juta di tahun 2019, angka tersebut turun di tahun 2020 menjadi US$ 2,91 juta. Pada kuartal I-2021 baru mencapai US$ 595.768. Selanjutnya ada minyak sawit olahan senilai US$ 5,15 juta pada tahun 2019, angkanya menurun menjadi US$ 4,95 juta di tahun 2020, dan pada kuartal I-2021 baru mencapai US$ 669.374.

3. Masih Surplus

Berdasarkan data BPS yang diterima detikcom, Jumat (21/5/2021), neraca perdagangan Indonesia dengan Israel surplus sebesar US$ 284,91 juta. Pada periode tersebut, total ekspor Indonesia ke Israel mencapai US$ 630,36 juta.

Rinciannya, tahun 2016 sebesar US$ 103,15 juta. Selanjutnya tahun 2017 tercatat sebesar US$ 125,99 juta, tahun 2018 sebesar US$ 123,04 juta, tahun 2019 sebesar US$ 120,63 juta, dan tahun 2020 US$ 157,52 juta.

(hek/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT