Liputan Khusus COD

Lumrah Sejak Zaman Kaskus, Kenapa COD Sekarang Bikin Heboh?

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 23 Mei 2021 11:15 WIB
Belanja Online
Belanja Online/Foto: Inet.detik.com
Jakarta -

Pembelian barang secara online melalui mekanisme Cash On Delivery (COD) belakangan ini bikin heboh. Berbagai video viral terus bermunculan yang menunjukkan pembeli yang marah-marah ke kurir karena barangnya tidak sesuai dan mau dikembalikan.

Fenomena ini menimbulkan berbagai pandangan di media sosial. Ada yang menyalahkan si pembeli, ada yang menyalahkan si penjual dan ada juga yang berpandangan agar sistem COD dihapuskan karena banyak bikin masalah.

Padahal COD bukanlah hal yang baru. Mekanisme ini sudah sering digunakan bahkan oleh masyarakat Indonesia. Pakar Marketing, Yuswohady mengatakan sebelumnya sistem COD tersebut dilakukan dalam hal direct marketing.

"Kalau dulu COD populer konteksnya direct marketing, artinya dikirim. Jadi bukan melalui channel tapi dikirim langsung. Nah bayarnya setelah diterima. Pengertian umumnya adalah dia membayar barang itu, karena nggak bisa ketemu maka dikirim dulu, bayarnya pada saat diterima," terangnya saat dihubungi detikcom.

Dalam direct marketing, sistem pembelian COD dilakukan setelah pembeli dan penjual mencapai kesepakatan. Artinya pembeli sudah memastikan bahwa barang yang akan dibeli sesuai dengan keinginannya.

Mekanisme tersebut sering dilakukan juga dalam kesepakatan jual beli yang dilakukan dalam forum seperti Kaskus. Belasan tahun yang lalu Kaskus cukup ngetren untuk melakukan aktivitas jual beli.

Di Kaskus pembeli bisa langsung menghubungi penjual yang memiliki lapak untuk menanyakan informasi terkait barang yang dijual. Nah COD bisa menjadi alternatif transaksi jika si pembeli khawatir ditipu.

Pembeli dan penjual akhirnya bertemu di lokasi yang disepakati, semacam kopdar. Saat bertemu itulah pembeli bisa mengecek langsung barang yang mau dibeli. Jika ada kejanggalan pembeli bisa bertanya langsung ke penjual di tempat lokasi COD.

"Kaskus kan hanya buyer dan seller, jadi nggak ada kurir, yang berlaku jadi kurir si seller. Kalau seperti itu rantainya lebih pendek, ya biasanya lebih mudah menyelesaikannya," terangnya.

Nah menurut Yuswohady yang membuat COD belakangan sering menimbulkan masalah adalah karena rantai dalam mekanisme tersebut bertambah panjang. Yuswohady melihat setidaknya ada 4 pihak yang terlibat dalam transaksi menggunakan sistem COD di e-commerce saat ini.

"Jadi ini karena ada berbagai pihak yang terlibat, pertama seller, kedua buyer, ketiga platform atau ecommerce, keempat logistik partner atau kurir. Dan masing-masing itu punya kepentingannya masing-masing," tuturnya.

Menurut Yuswohady penggunaan mekanisme COD dalam bertransaksi tidak menimbulkan gesekan karena pihak yang terlibat hanya pembeli dan penjual. Sehingga ketika barang yang diterima tidak sesuai, pembeli bisa mengkonfirmasi langsung ke penjual saat bertemu.

Nah untuk sistem COD di marketplace saat ini melibatkan perusahaan logistik sebagai kurir untuk mengantar barangnya. Sementara kurir hanya bertugas untuk mengirim barang tersebut dan memastikan paketnya tidak rusak.

lanjutkan membaca ke halaman selanjutnya