Trump Yakin COVID-19 Bocor dari Wuhan, Tuntut China Rp 142 Kuadriliun

Tim detikcom - detikFinance
Sabtu, 05 Jun 2021 14:00 WIB
Jakarta -

Eks Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuntut China untuk membayar US$ 10 triliun atau Rp 142,9 kuadriliun kepada AS dan dunia terkait pandemi COVID-19. Ia menuding China menjadi dalang tersebarnya pandemi ini.

Trump bahkan mengatakan kini semua orang, termasuk musuh-musuhnya, akhirnya percaya kepadanya bahwa virus COVID-19 berasal dari kebocoran Laboratorium Wuhan.

"Sekarang semua orang, bahkan yang disebut 'musuh', mulai mengatakan bahwa Presiden Trump benar tentang Virus China yang berasal dari Lab Wuhan," kata Trump dilansir The Sun, Sabtu (5/6/2021).

"China harus membayar US$ 10 triliun ke Amerika dan dunia, atas kematian dan kehancuran yang mereka sebabkan," tuntut Trump.

Hampir satu setengah tahun sejak COVID-19 terdeteksi pertama kali di kota Wuhan, China. Hingga kini pertanyaan tentang bagaimana virus tersebut pertama kali muncul masih menjadi misteri.

Tetapi dalam beberapa pekan terakhir, klaim kontroversial bahwa pandemi mungkin telah bocor dari laboratorium Wuhan, yang pernah dianggap oleh banyak orang sebagai teori konspirasi, telah mendapatkan perhatian lagi.

Presiden AS Joe Biden telah mengumumkan penyelidikan mendesak yang akan melihat teori virus Corona bocor dari lab Wuhan sebagai kemungkinan asal muasal penyakit tersebut.

Ada kecurigaan bahwa virus korona mungkin telah lolos, secara tidak sengaja atau tidak, dari laboratorium di kota Wuhan di China tengah, tempat virus pertama kali tercatat.

Lanjut ke halaman berikutnya.

Mereka yang percaya dengan teori itu berpendapat pada keberadaan fasilitas penelitian biologi utama di kota. Institut Virologi Wuhan (WIV) telah mempelajari virus Corona pada kelelawar selama lebih dari satu dekade.

Laboratorium tersebut terletak hanya beberapa kilometer dari pasar basah Huanan tempat infeksi pertama muncul di Wuhan. Mereka yang mendukung teori tersebut mengatakan bisa saja bocor dari fasilitas ini dan menyebar ke pasar basah.

Teori kontroversial ini pertama kali muncul pada awal pandemi, dan terus digaungkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump. Beberapa bahkan menyatakan penyakit ini direkayasa sebagai senjata biologis.

Sementara banyak media dan politik menolak ini sebagai teori konspirasi pada saat itu, yang lain menyerukan pertimbangan lebih lanjut tentang kemungkinan tersebut. Meski demikian, ide tersebut muncul kembali dalam beberapa pekan terakhir.

(fdl/fdl)