Masih Terus Tumbuh, Industri Keuangan Syariah RI Bisa Salip Malaysia?

Tim detikcom - detikFinance
Sabtu, 05 Jun 2021 14:05 WIB
Pemerintah melalui Bank Indonesia dan Kemenkeu membahas ekonomi syariah di pertemuan internasional IMF-World Bank 2018 di Bali.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional, Arsjad Rasjid mengatakan Indonesia kini tumbuh menjadi kekuatan baru industri keuangan syariah global seiring meningkatnya kecenderungan masyarakat pada produk dan jasa keuangan syariah.

Arsjad mengungkapkan bahwa industri keuangan syariah Indonesia berkembang pesat dan saat ini berada di peringkat kedua setelah Malaysia.

"Tahun 2019, kita berada di urutan keempat. Sekarang kita di urutan kedua setelah Malaysia. Saya yakin keuangan syariah memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi kita," kata Arsjad di Jakarta, Sabtu (5/6/2021).

Ia mengatakan, hingga Februari 2021, total aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp1.836 triliun. Angka tersebut meningkat dari posisi Desember 2020, yang sebesar Rp1.803 triliun.

Selain itu, berdasarkan laporan Islamic Finance Development Indicators (IFDI) 2020 dari Islamic Corporation for the Development of the Private Sector (ICD) dan Revinitiv dari 135 negara, Indonesia termasuk top 5 countries berdasarkan nilai aset, tepatnya peringkat ke-5 dengan US$ 3 miliar, di bawah Arab Saudi (US$ 17 miliar), Iran (US$ 14 miliar), Malaysia (US$ 10 miliar), dan hampir imbang dengan UAE (US$ 3 miliar).

"Kemajuan ini mencerminkan besarnya peluang Indonesia untuk menjadi kekuatan industri keuangan syariah dunia. Apalagi, market share keuangan syariah kita masih di angka 9,96%. Kita terus dorong agar penetrasi industri jasa keuangan syariah terus meningkat," katanya.

Lanjut halaman berikutnya.