Belajar Tatap Muka Segera Dimulai, Bagaimana Biar Nggak Picu Penularan

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 15 Jun 2021 17:08 WIB
Tenaga kesehatan dari Puskesmas Jurangmangu melakukan tes swab antigen kepada warga di RT RT 7 dan 3 RW 5, Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Kota Tangsel, Banten, Senin (7/6/2021). Tes tersebut setelah 7 anggota keluarga di RT tersebut terindikasi positif virus Corona Covid-19, pada pekan lalu. Upaya ini sebagai upaya tracing atau pelacakan untuk menekan penyebaran virus.
Foto: Contoh Alat Tes Antigen (Istimewa)
Jakarta -

Pemerintah berencana memulai sekolah tatap muka tepat pada 1 Juli 2021 mendatang. Sejalan dengan rencana tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan arahan yang disampaikan disampaikan melalui Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Arahan tersebut utamanya untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tatap muka berjalan aman dan tak membahayakan para guru dan siswa dari risiko penularan virus Corona.

"Bapak Presiden tadi mengarahkan pendidikan tatap muka yang nanti akan dimulai itu harus dijalankan dengan ekstra hati-hati, tatap mukanya dilakukan tatap muka terbatas. Terbatasnya itu apa, pertama hanya boleh maksimal 25 persen dari murid yang hadir, tidak boleh lebih dari dua hari seminggu, jadi seminggu hanya dua hari boleh melakukan maksimal tatap muka. Kemudian setiap hari maksimal hanya dua jam," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam jumpa pers virtual, Senin (7/6/2021) lalu.

Dalam kaitannya dengan pencegahan penularan virus Corona, selain arahan Presiden Jokowi di atas, ada hal lain yang tak kalah penting yakni memastikan pelaksanaan protokol kesehatan tetap dilaksanakan.

Hal lain yang tak kalah penting adalah memastikan setiap pihak yang terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar haruslah negatif virus Corona. Hal ini penting guna memastikan kegiatan belajar mengajar tidak malah memicu timbulnya 'cluster sekolah'.

Direktur Utama PT Joy Indo Medika, Ni Kadek Asmiari mengungkapkan, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan pemeriksaan antigen untuk memastikan tenaga pengajar dan perangkat sekolah lainnya negatif Corona sebelum masuk kelas.

Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar yang erat kaitannya dengan waktu, alat test antigen bisa menjadi pilihan alat pemeriksaan virus Corona karena punya kelebihan akurasinya yang tinggi dan proses pemeriksaannya yang relatif singkat.

"Kalau test PCR itu hasilnya 2 jam paling cepet dan biayanya juga beda. Produk antigen seperti cov-test memang hasilnya cepat dan dia maksimal 15 menit juga sudah keluar," tutur dia saat berbincang dengan awak media belum lama ini.

Meski punya akurasi yang tinggi, namun ada tantangan tersendiri dalam proses pemeriksaan test antigen. Ada kesan negatif proses pemeriksaan antigen sering menimbulkan rasa tidak nyaman karena harus memasukkan swab/ stick kapas steril ke pangkal hidung untuk mengambil spesimen lendir pada saluran nafas. Kesan negatif ini yang membuat banyak orang menghindari proses pemeriksaan swab test antigen.

Berangkat dari kondisi di atas, PT Joy Indo Medika produsen alat tes antigen cov-test, melakukan terobosan pada alat test antigen yang diproduksinya.

Menurut Kadek, yang menjadi diferensiasi dari produk sejenis, alat pengambil swab atau dakron produk cov-test lembut, sehingga mengurangi rasa sakit atau tidak nyaman saat digunakan bahkan untuk anak kecil sekalipun.

Pengusaha asal Bali itu memastikan produk cov-test telah dilengkapi ijin edar, memiliki sertifikasi iso 9001, 13485 dan ce sertifikasi. Cov-test juga diproduksi oleh perusaahan ternama dan dibidangnya yaitu perusahaan invitrodiagnostic yang memiliki standar steriliasi yang tinggi.

Selain itu, produk cov-test disimpan di suhu yang sesuai anjuran yaitu 4-30 derajat celcius. Ini penting untuk menjamin akurasi hasil test antigen yang dilakukan.

(dna/dna)