Produksi Umbi Basah Porang Madiun Capai 50,1 Ton di 2020

Sugeng Harianto, Erika Dyah - detikFinance
Kamis, 17 Jun 2021 22:15 WIB
porang
Foto: Kementan
Madiun -

Kementerian Pertanian menjadikan Porang sebagai salah satu komoditas super prioritas untuk meningkatkan nilai ekspor. Porang dinilai memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan dari hulu hingga hilir, dengan dukungan kelembagaan petani yang kuat dalam bentuk korporasi.

Untuk mendukung hal tersebut, dilakukan Gerakan Panen Porang di Madiun, tepatnya di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Madiun. Kegiatan ini dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy serta Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo.

Dalam kegiatan tersebut, Muhadjir mengungkap bahwa Madiun menjadi salah satu dari 263 kabupaten yang akan difokuskan sebagai pengembangan Porang. Meski demikian, ia mengatakan bahwa petani Madiun, khususnya di desa ini sebenarnya sudah akrab dengan Porang sejak tahun 1980-an.

"Waktu saya KKN, zaman kuliah dulu. Saya mendampingi petani di sini untuk membuat chip. Tapi tentu dengan cara yang tidak seperti sekarang ini. Masih tradisional," kata Muhadjir dalam keterangan tertulis, Kamis (17/6/2021).

Sementara itu, salah satu petani di Desa Klangon bernama Parmo (47) mengatakan bahwa Porang awalnya tidak dilirik orang karena dianggap sebagai tanaman liar. Ia menambahkan Porang orang mulai beramai-ramai menanam Porang pada awal tahun 2000-an ketika harganya mulai merangkak naik.

"Sebetulnya, tahun 60-an sudah ada Porang. Tapi memang mulai dibudidayakan tahun 1985. Waktu itu dibentuk Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang mewadahi petani Porang. Sekarang ada sekitar 350 petani yang menggarap 240 hektare," ungkap Parmo.

Ia menjelaskan selain di Kecamatan Saradan, Porang di wilayah Madiun juga bisa ditemui di Kare, Dolopo, Dagangan, Mejayan, Gemarang, Wungu, Wonoasri, Pilangkenceng, dan Madiun.

Adapun produksi umbi basah Porang di Madiun dalam tiga tahun terakhir diketahui terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2018, produksi umbi basah mencapai 8,8 ton, sedangkan tahun 2019 melonjak menjadi 20,79 ton dan di tahun 2020 naik dua kali lipat menjadi 50,1 ton.

Sama halnya dengan umbi basah, lanjut Parmo, setiap tahun produksi chip juga mengalami peningkatan. Tahun 2018, produksi umbi basah mencapai 1,5 ton, tahun 2019 melonjak 3 kali lipat menjadi 5,1 ton dan di tahun 2020 naik lagi, 12,5 ton.

Menanggapi peningkatan tersebut, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo turut mengapresiasi dan mendukung kerja keras Bupati Madiun, Ahmad Dawani dalam mengembangkan Porang di wilayah tersebut.

"Saya sudah dengar laporannya. Luar biasa Bapak Bupati kita. Teruskan dan jalankan dik. Tentu bersama Ibu Gubernur," kata Mentan.

Ia menilai sekarang ini banyak orang yang mencari bibit Porang. Untuk itu, ia berpesan agar Porang jangan langsung dibawa keluar.

"Saya dukung Perda Bu Gubernur tentang larangan menjual katak, yang boleh keluar hanya chip dan tepung," pungkasnya.

(mul/hns)