Keluarga ABK yang Meninggal di Singapura Dapat Santunan Rp 1,6 M

Tim detikcom - detikFinance
Sabtu, 19 Jun 2021 11:07 WIB
Keluarga ABK yang Meninggal di Singapura Dapat Santunan Rp 1,6 M
Foto: Dok. Kemenhub
Jakarta -

Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Perkapalan dan Kepelautan pada tanggal 17 Juni 2021 kembali memfasilitasi penyerahan santunan kepada keluarga Anak Buah Kapal (ABK) kapal MT Kirana Quintya yang meninggal dunia saat bertugas di Singapura.

Santunan atas nama Mohamad Budi Santoso diberikan langsung oleh Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Capt. Hermanta kepada istri dan anak almarhum sebesar SGD 151.078,92 atau setara dengan Rp 1,62 M (kurs 10.781).

Capt. Hermanta menjelaskan, hal ini sebagai salah satu bentuk pemenuhan hak atas pelaut yang meninggal dunia sesuai amanat Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2000 tentang Kepelautan yang menyatakan bahwa jika ABK KAPAL meninggal dunia dan PKL (perjanjian kerja laut) masih berlaku pengusaha angkutan di perairan wajib membayar santunan.

"Kementerian Perhubungan mengucapkan duka cita sedalam-dalamnya atas kepergian almarhum semoga dapat diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesehatan," kata Capt. Hermanta dalam keterangannya, Sabtu (19/6/2021).

Capt Hermanta mengungkapkan pada 23 Februari 2021, Ministry of Manpower Singapore mengeluarkan Surat Tidak Keberatan Pengajuan Klaim Kompensasi Kecelakaan Kerja atas nama Budi yang akan diberikan kepada ahli warisnya.

Pada 15 April 2021, Ministry of Manpower Singapore mengeluarkan surat pengajuan klaim kompensasi kecelakaan kerja atas nama Budi, yang di dalamnya termasuk cek Bank DBS senilai SGD 151.078,72.

"9 Juni 2021 akhirnya kami menerima dokumen dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, yang berisi Surat terkait Pengajuan Klaim Kompensasi Kecelakaan Kerja atas nama Alm. Muhamad Budi Santoso yang dikeluarkan oleh Ministry of Manpower Singapore termasuk Cek Bank DBS senilai SGD 151,078.72," ungkapnya.

Capt. Hermanta menegaskan, santunan berupa materi tidak setara dengan nyawa dan tidak dapat menggantikan keberadaan almarhum yang kini tidak dapat lagi bisa menemani keluarganya. "Namun saya berharap kompensasi ini dapat bermanfaat dan digunakan oleh ahli waris dengan sebaik-baiknya," ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan Kemenhub selaku regulator dan otoritas yang selama ini memfasilitasi kegiatan pengiriman tenaga kerja melalui agen-agen pelayaran serta pengawasan kepelautan senantiasa aktif melindungi ABK WNI yang bekerja di dalam maupun di luar negeri.

"Seperti yang terjadi pada Almarhun Mohamad Budi Santoso yang meninggal saat bekerja, merupakan tanggung jawab kita untuk melakukan pemulangan dan memfasilitasi proses sampai dengan pemberian santunan," jelasnya.

Capt. Hermanta juga berpesan kepada seluruh ABK khususnya yang tengah bekerja di luar negeri untuk selalu menjaga kesehatan. "Jaga kesehatan, jaga kondisi tubuh agar tetap dalam kondisi yang baik sehingga dapat bertahan dan melaksanakan tugas," tutupnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2