Stabilkan Harga Tahu Tempe, Kementan Bantu Subsidi Distribusi Kedelai

Nadhifa Sarah Amalia - detikFinance
Sabtu, 19 Jun 2021 14:36 WIB
Kementan Bantu Subsidi Distribusi Kedelai ke Pengrajin Tahu Tempe
Foto: Dok. Kementan
Jakarta -

Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) memfasilitasi biaya distribusi kedelai dari produsen ke wilayah perajin yang membutuhkan pasokan bahan baku di Kendal, Jawa Tengah. Hal itu dilakukan untuk menekan biaya produksi yang tinggi.

Menurut Kepala BKP Agung Hendriadi mengatakan kenaikan harga kedelai beberapa waktu terakhir sempat membuat produsen tahu tempe kelimpungan. Pasalnya, kenaikan tersebut berdampak juga pada kenaikan harga di tingkat konsumen yang tinggi.

"(Oleh karena itu) upaya ini bagian dari strategi menekan kenaikan harga kedelai di tingkat perajin agar tempe dan tahu tetap terjangkau oleh masyarakat," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/6/2021).

Lebih lanjut, melalui Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, BKP Kementan juga membantu kelancaran pasokan kedelai ke perajin tahu tempe. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah Agus Wariyanto menambahkan dana distribusi pangan yang dialokasikan melalui Dana Dekonsentrasi digunakan untuk membantu kelancaran pasokan kedelai yang akhir-akhir ini mengalami kenaikan harga.

"Langkah ini dilakukan sebagai tekad pemerintah dan upaya menstabilkan pasokan dan harga kedelai di Jawa Tengah secara berkesinambungan," ucap Agus

Agus mengatakan pemenuhan pasokan kedelai melalui Primkopti Harum Weleri menjadi langkah jaminan ketersediaan kedelai bagi pengrajin tempe dan tahu di Kendal, agar tetap bisa berproduksi dan Kopti selaku penyedia bahan bakunya. Dinas Pangan Jateng pun membantu mendistribusikan sekitar 200 ton kedelai dari petani ke pengrajin tempe dan tahu di Kabupaten Kendal.

Sementara itu, Ketua Primkopti Harum Weleri Kabupaten Kendal, Rifai mengatakan kebutuhan kedelai di Kabupaten Kendal sekitar 1.000 ton per tahun, namun Primkopti hanya mampu memenuhi separuhnya.

"Sebagian kebutuhan kedelai di Kendal dipenuhi dari impor. Dengan kenaikan harga kedelai impor saat ini, hampir Rp 11.000 per kilo, para perajin memilih mengurangi ukuran tahu dan tempe dari pada menaikan harga," ungkapnya.

Adapun pengakuan dari perajin tahu dari Weleri bernama Muhamad Irfan. Ia mengakui jika harga kedelai yang terus naik mengurangi produksi dan ukuran tahu dan tempenya.

"Ketika harga kedelai masih Rp 7.000, perajin bisa memproduksi tahu maupun tempe hingga satu kwintal. Namun saat harga kedelai naik terus, banyak yang mengurangi produksi dan terpaksa mengurangi ukuran tahu maupun tempe," jelas Irfan.

Kebutuhan kedelai di Jawa Tengah antara 420.000 sampai 450.000 ton per tahun, namun hingga saat ini kebutuhan tersebut masih belum terpenuhi sepenuhnya dari produksi dalam negeri.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mengungkapkan Kementan serta pihak terkait terus mendorong produktivitas dan perluasan lahan kedelai agar kebutuhan kedelai dapat terpenuhi secara mandiri.

Syahrul berharap kerja sama dengan pemerintah daerah serta stakeholder terkait sangat penting, serta upaya peningkatan produksi terus bisa dilakukan sehingga ketergantungan impor dapat ditekan.

(akd/ara)