Corona Menggila, RI Bisa Resesi Lagi?

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 20 Jun 2021 17:43 WIB
Poster
Dampak ngeri bila Corona yang menggila tak segera dijinakkan (Foto: Edi Wahyono)
Jakarta -

Banyak pihak yang awalnya meyakini bahwa 2021 merupakan tahun pemulihan ekonomi setelah dihantam pandemi COVID-19. Namun dengan maraknya kembali kasus COVID-19 di Indonesia, pemulihan itu sepertinya sulit tercapai.

Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, apa yang sedang terjadi saat ini bisa saja terjadi seperti saat pandemi COVID-19 awal mula melanda di Indonesia. Ekonomi bisa mengalami kontraksi 3 kuartal berturut-turut.

Namun dampak negatif terhadap ekonomi itu bisa saja diredam jika pemerintah melakukan antisipasi yang tepat. Bisa juga melakukan intervensi untuk menjaga roda perekonomian. Jika tidak berhasil maka target tidak mungkin bisa tercapai.

"Jika misalnya intervensinya tidak kuat, khususnya dalam penanganan kesehatan, saya kira akan semakin berat mencapai target pertumbuhan 5% yang dicanangkan pemerintah tahun ini. Kalau berbicara kuartal II justru, dengan adanya peningkatan kasus COVID-19, peluang untuk bisa tumbuh kesana, semakin kecil," tuturnya saat dihubungi detikcom, Minggu (20/6/2021).

Yusuf memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada di kisaran 3-4%. Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi secara tahunan di 2021 mencapai 4,5-5,5%.

"Sejauh ini kami menilai, proyeksi pertumbuhan ekonomi masih akan berada di kisaran 3-4% full year. Meskipun ada peluang turun di kuartal III, tapi saya kira pemerintah akan lebih tancap gas pada kuartal terakhir. Dengan realisasi belanja pemerintah dan insentif seperti PEN," tambahnya.

Sementara Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, target pemerintah sudah pasti tidak mungkin tercapai. Kenaikan jumlah kasus COVID-19 tentu mengharuskan pemerintah untuk kembali memperketat pembatasan sosial yang sudah pernah terbukti menghambat laju ekonomi.

"Proyeksi di kuartal ke II tahun 2021 maksimal tumbuh 2-4% tidak setinggi proyeksi pemerintah yang 8% itu. Lebaran seakan jadi momen pemulihan daya beli, tapi karena risiko kesehatan naik maka faktor musiman Lebaran jadi tidak banyak membantu. Sementara kuartal ke III dengan asumsi kondisi COVID-19 masih sama maka proyeksi pertumbuhan berisiko negatif," terangnya.

Kondisi yang buruk ini menurut Bhima masih akan berlanjut di kuartal III-2021. Situasi akan semakin kompleks dengan meningkatnya tekanan dari eksternal yakni normalisasi kebijakan moneter bank sentral AS yang akan membuat rupiah cenderung melemah.

"Sementara harga minyak dunia yang naik memicu penyesuaian harga BBM non subsidi dan tarif listrik. Selain itu kuartal ke III tidak ada momen kenaikan konsumsi, beda dengan kuartal ke II yang bertepatan dengan Lebaran di mana konsumsi biasanya lebih tinggi dari periode lain," tambahnya.

Untuk secara tahunan, Bhima memprediksi pertumbuhan ekonomi RI di 2021 hanya akan berada dalam kisaran 2-3% imbas ledakan virus Corona kali ini.

(das/dna)