Tips Bahagia buat PNS Kala Pensiun Tiba

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 21 Jun 2021 07:10 WIB
Ilustrasi Pensiun
Foto: Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah
Jakarta -

Batas usia pensiun sudah sewajarnya diketahui oleh para pekerja termasuk pegawai negeri sipil (PNS) maupun anggota TNI/Polri. Cepat atau lambat, pasti ada batasan usia di mana seseorang tidak lagi dapat bekerja.

Meski sudah tidak bekerja, untuk mengisi kesibukan dan mendapat penghasilan para pensiunan PNS bisa membuka bisnis. Apapun bisnis dinilai bagus bisa dari hobi, atau yang benar-benar sudah dikuasai.

"Bisa dipilih yang sesuai dengan kesenangan atau ketertarikan mereka, dipadu dengan keadaan dan kondisi lingkungan dan keuangan, serta permintaan dan kebutuhan pasar di sekitar kita," kata Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho kepada detikcom, Minggu (20/6/2021).

Andy menyebut yang perlu diperhatikan pensiunan PNS jika mau membuka bisnis adalah jangan mengalokasikan seluruh uang pensiun ke dalam bisnis tersebut. Pasalnya setiap bisnis yang baru dirintis ada saja kemungkinan gagalnya.

"Jadi dirasa akan lebih bijak jika uang pensiun yang dijadikan modal awal maksimal 30% dulu dan dilihat perkembangan bisnis tersebut. Jika ternyata memang menghasilkan dan sesuai dengan yang diharapkan, barulah kemudian bila perlu suntikan modal lagi ditambahkan sampai 50% dana pensiun yang dimiliki, dan cukup sampai di situ menurut saya," tuturnya.

Waktu yang tepat untuk mempersiapkan uang pensiunnya, kata Andy, ketika pertama kali mulai diterima bekerja. Semakin dini menabung untuk masa pensiun, maka semakin ringan dana yang disisihkan dan semakin besar dana yang dihasilkan.

"Waktu yang tepat kedua adalah ketika mulai sadar bahwa kita harus menyiapkan dana untuk masa pensiun kita nanti," tuturnya.

Kalau malas bisnis, uang pensiunnya bisa buat investasi. Klik halaman selanjutnya.

Kalau malas berbisnis, uang pensiunan bisa digunakan untuk investasi. Pastikan kamu tidak terjebak dalam investasi bodong dengan cara rajin mempelajari ciri-ciri investasi bodong dan jangan tergiur dengan imbal hasil yang cepat.

"Jangan sampai terjebak ke dalam investasi bodong. Kita mau tidak mau harus mulai memahami prinsip investasi dan produk apa yang sekiranya cocok dengan kita," kata Andy.

Produk investasi pun begitu banyak dengan karakter keuntungan dan risiko yang berbeda-beda. Nah disarankan memilih investasi yang risiko rendah seperti deposito, Surat Berharga Negara (SBN), logam mulia, atau reksa dana berbasis pasar uang atau fixed income.

"Misal kita sudah paham bahwa karakter dan kondisi kita lebih cocok untuk produk yang beresiko rendah, maka kita bisa pilih produk itu," imbuhnya.

"Jadi walaupun semisal investasi yang kita ikuti merupakan produk finansial dari bank ternama, resikonya rendah dan sudah sesuai dengan profil resiko kita, namun namanya resiko itu akan selalu ada," tambahnya.

(aid/eds)