Dihantam Pandemi, Gimana Cara Industri Pariwisata Bertahan?

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Kamis, 24 Jun 2021 22:55 WIB
Wisatawan berada di zona 2 kawasan Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (24/6/2021). Menindaklanjuti surat edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor 9 Tahun 2021 tentang kebijakan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan dan penanganan COVID-19, Balai Konservasi Borobudur (BKB) menutup sementara kawasan zona 1 Candi Borobudur mulai tanggal 23 Juni sampai 2 Juni mendatang.  ANTARA FOTO/Anis Efizudin/rwa.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN
Jakarta -

Pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi COVID-19 yang berkepanjangan ini. Kondisi industri pariwisata saat ini bahkan dinilai lebih berat dari tahun 2020 sebelumnya.

Hal ini dialami oleh PT Hotel Indonesia Natour (Persero) (HIN). BUMN yang bergerak di bidang jasa perhotelan tersebut harus merasakan turunnya tingkat hunian kamar hotel pada tahun 2020 lalu hingga 67% dari 2019.

"Tahun lalu tingkat hunian kita hanya sekitar 27% sepanjang tahun. Apalagi pendapatan kita 60-70% dari Bali, dampak pandemi ini sangat luar biasa bagi industri perhotelan," ujar Direktur Pengembangan Bisnis PT HIN Christine Hutabarat dalam keterangan tertulis, Kamis (24/6/2021).

Meski berat, kata dia, pelaku pariwisata mulai beradaptasi dengan tuntutan keadaan melalui penguatan standar kebersihan, kesehatan, keamanan dan kelestarian lingkungan atau dikenal dengan CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, Environment Sustainability).

"CHSE bukan sekadar jargon, namun sudah jadi identitas dalam melakukan pelayanan di industri pariwisata. Sehingga nantinya bisa menumbuhkan kepercayaan masyarakat, sekaligus mengedukasi protokol kesehatan seperti yang dianjurkan pemerintah," imbuh Christine dalam Dialog Publik yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, (23/6) kemarin.

Dia menilai selain upaya-upaya yang dilakukan melalui beradaptasi dengan keadaan, stimulus dari Kemenparekraf sejak 2020 berupa hibah Pariwisata maupun bantuan lainnya diakuinya sangat membantu industri sektor pariwisata untuk bertahan.

"Stimulus dari pemerintah kami gunakan untuk beberapa hal, selain membantu membiayai operasional kami di masa permintaan yang rendah, juga membantu meningkatkan kualitas dari implementasi CHSE dan pelatihan tenaga kerja di HIN," terang Christie.

Sementara itu, kondisi yang sama ini juga dirasakan pelaku bisnis kreatif di Bali, salah satunya Pemilik Kerajinan Perak dan Tas Kulit Cyn, Cokorda Istri Julyan. Dia menyampaikan dampak pandemi ini sangat berat, tapi perlahan pihaknya beradaptasi.

"Kami tetap beradaptasi agar teman-teman pelaku industri kreatif di lokasi pariwisata bisa menyesuaikan karyanya dengan keadaan seperti sekarang ini," jelasnya.

Juliyana mengakui bahwa stimulus dan upaya yang dilakukan pemerintah turut mendukungnya bertahan di tengah situasi sulit.

"Kami banyak tertolong oleh pemerintah yang sering mengadakan pelatihan pemasaran produk secara digital. Kita tentu harus terus beradaptasi dengan keadaan pandemi seperti saat ini. Terutama untuk membangkitkan kembali semangat pengrajin perak untuk melewati pandemi ini secara bersama," beber Juliyana.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengungkapkan protokol kesehatan di industri hotel dan restoran termasuk yang paling berkomitmen. Di awal Maret 2020 saja, pihaknya sudah menyusun standar protokol kesehatan.

"Perubahannya sampai tiga kali menyesuaikan Surat Edaran Menteri Kesehatan dan standar WHO. Kami justru mendukung PPKM Mikro yang dijalankan saat ini," pungkasnya.

(ega/hns)