Sempat Mau Dilego, Victoria's Secret Kini Malah Bikin Ngiler

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 25 Jun 2021 10:21 WIB
Victorias Secret
Foto: Rahmi Anjani/Wolipop
Jakarta -

Pada Februari 2020, L Brands, induk perusahaan Victoria's Secret dan Bath & Body Works mencapai kesepakatan dengan perusahaan ekuitas swasta Sycamore Partners. L Brands akan menjual saham mayoritasnya di Victoria's Secret senilai US$ 525 juta.

Kemudian pandemi COVID-19 datang dan menjungkirbalikkan ekonomi global dan imbasnya Sycamore mundur dari kesepakatan tersebut. Pada bulan Mei, kedua belah pihak membatalkan kesepakatan dan L Brands kembali ke titik awal.

Dikutip dari CNN, Jumat (25/6/2021), setelah satu tahun berlalu dari batalnya kesepakatan itu, Victoria's Secret dan L Brands justru tampil beda. Perusahaan berhasil bangkit dan melalui masa sulit.

Penjualan dan keuntungan Victoria's Secret tumbuh, dan L Brands berencana untuk melepaskan merek pakaian intim tersebut ke pasar modal dan menjadikannya perusahaan publik yang terpisah pada bulan Agustus mendatang.

Peningkatan kinerja Victoria's Secret dan antusiasme investor tentang prospeknya sebagai perusahaan mandiri telah membantu menaikkan saham L Brands (LB) sekitar 90% tahun ini, menjadikan saham ini salah satu yang berkinerja terbaik di S&P 500.

Victoria's Secret juga sedang membuka peluang bekerja sama dengan beberapa tokoh wanita ternama, termasuk bintang sepak bola Megan Rapinoe, aktris Priyanka Chopra Jonas, dan model ukuran plus Paloma Elsesser.

Mereka juga akan mengerjakan lini produk baru, mengembangkan konten, dan mendukung kegiatan sosial atas nama Victoria's Secret. Merek ini sekarang menargetkan pertumbuhan penjualan satu digit persentase setiap tahun selama tiga hingga lima tahun ke depan.

Analis ritel menilai kebangkitan Victoria's Secret ini merupakan buah hasil dari pemasaran yang lebih inklusif, jumlah produk yang lebih luas, penurunan harga yang lebih sedikit, dan langkah untuk beradaptasi dengan belanja online.

Merek ini juga menutup lebih dari 250 toko yang setara dengan seperempat dari tokonya di Amerika Serikat dan Kanada tahun lalu. Hal itu justru membuat perusahaan memangkas jaringan yang kinerjanya lebih lemah.

Terlepas dari itu, menurut para analis, Victoria's Secret masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan, seperti menggaet kembali konsumen yang hilang dalam beberapa tahun terakhir dan menangkis merek bra pemula.

"Masa depan Victoria's Secret terlihat seperti branding yang lebih inklusif, yang akan menjadi jalan panjang bagi mereka," kata Erin Schmidt, analis ritel di Coresight Research.

(das/ara)