Faisal Basri Sebut Tugas Sri Mulyani Berat karena KPK Dilemahkan, Kok Bisa?

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 01 Jul 2021 11:46 WIB
Faisal Basri Berbicara Mengenai Sektor Energi dan Industri

Pengamat Ekonomi, Faisal Basri melakukan bincang bersama wartawan perihal Holding BUMN Migas di Jakarta, Jumat (16/3/2018).


Selain berbicara mengenai Holding BUMN Migas Mantan Ketua Tim komite Tata Kelola Migas Faisal Basri berbicara mengenai isu isu di sektor energi dan industri. Grandyos Zafna/detikcom
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Ekonom Faisal Basri menyebut tugas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berat, di satu sisi harus mencari uang tapi di sisi lain korupsi masih marak terjadi. Kondisi tersebut akan menyulitkan bendahara negara untuk mengumpulkan pundi-pundi pendapatan, khususnya melalui pajak.

"Rakyat itu niscaya penolakannya akan tinggi terhadap kenaikan pajak ini karena buat apa dia bilang pajak dinaikkan kalau dikorupsi," kata dia dalam webinar, Kamis (1/7/2021).

Bahkan, andai dirinya menjadi menteri keuangan akan merasa berat juga bila dihadapkan situasi semacam itu.

"Pajak naik tapi ember bocornya tidak ditambal, rasa keadilan lagi. Ini yang paling berat. Kalau saya jadi menteri keuangan ini yang saya nggak bisa ngomong, berat ini. Jadi Bapak/Ibu bisa bayangkan posisi Kementerian Keuangan itu seperti apa, suruh cari uang terus, tapi KPK-nya dilemahkan, bagaimana ini?" ujarnya.

Sementara dia memahami bahwa Kementerian Keuangan harus mencari cara untuk menekan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) berada di bawah 3% pada 2023.

"Menurut kajian, tax system itu menjadi less progressive karena kan cepat nih sebelum 2023 sudah nggak bisa lagi defisitnya di atas 3% kan, maka harus dari sekarang dicarikan sumber-sumber pendapatan yang baru," tambahnya.

Lihat Video: Menkeu Wanti-wanti Kenaikan Kasus Covid-19, Pengaruhnya ke Ekonomi

[Gambas:Video 20detik]



(toy/fdl)