Yang Terjadi Saat RI Turun Kelas: Orang Menua Sebelum Kaya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 08 Jul 2021 16:55 WIB
Poverty And Absence Of Money Concept. Stacks Of Coins Lying On Table In Front Of Sad African American Couple, Crop
Foto: Getty Images/iStockphoto/Prostock-Studio
Jakarta -

Indonesia menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah, turun kelas dari tahun lalu yang masuk ke peringkat negara berpenghasilan menengah ke atas. Hal itu sesuai dengan laporan Bank Dunia yang menyebutkan GNI per kapita Indonesia sebesar US$ 3.870.

Klasifikasi pendapatan ini sendiri mencerminkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Nah apabila Indonesia terus menerus menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah dikhawatirkan masyarakat akan tua sebelum kaya.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira. Menurutnya saat ini masyarakat akan kesulitan meningkatkan pendapatan, alhasil hidup akan stagnan tak ada kemajuan. Otomatis untuk menjadi kaya sebelum tua akan sangat sulit.

"Indonesia ini akan tua sebelum kaya, jadi artinya kita akan masuk sebagai generasi yang perlindungan sosialnya kecil dari negara, pemerintah. Sementara itu pendapatan rata-rata nggak alami kenaikan tinggi, alhasil hidup bakal begini-gini saja. Tidak ada kenaikan kualitas hidup secara umum. Baik dalam hal kesehatan dan pendidikan," ungkap Bhima kepada detikcom, Kamis (8/7/2021).

Menurutnya, kalau sudah begini kalangan usia tua, apalagi lansia akan sangat terpengaruh kesejahteraannya. Bagi anak muda, bila Indonesia tak kunjung naik kelas pendapatannya maka kalangan muda di Indonesia berpotensi menjadi generasi sandwich.

Maksudnya, generasi yang harus menghidupi orang tuanya, sekaligus keluarga kecilnya. Generasi sandwich ini pun menurutnya akan menghadapi kondisi yang makin berat dari generasi sebelumnya.

"Nah anak mudanya, ancamannya turun kelas ini akan makin banyak anak muda yang masuk ke generasi sandwich. Ini generasi yg dia harus menanggung beban keuangan orang tuanya. Sementara dia juga tanggung beban keluarganya, anak dan istrinya misalnya," kata Bhima.

Sementara itu, menurut ekonom Bank Permata Josua Pardede klasifikasi pendapatan Bank Dunia adalah gambaran dari pergerakan ekonomi Indonesia selama setahun ke belakang.

Menurutnya, memang ekonomi melambat karena pandemi COVID-19. Kemiskinan hingga pengangguran pun melonjak, otomatis pendapatan per kapita masyarakat juga anjlok. Maka wajar saja bila Indonesia harus turun kelas jadi negara berpenghasilan menengah ke bawah.

"Kalau riilnya kita lihat sih memang dampak 2020 ya ini, ini kan klasifikasinya seperti evaluasi 2020 ya. Kita ini kontraksi 2%, kemiskinan dan pengangguran meningkat maka pendapatan perkapita makanya turun," papar Josua.

Dia menilai secara jangka pendek penanganan COVID-19 jadi PR pemerintah, setelah itu baru pemulihan ekonomi dilakukan. Dengan begitu ekonomi akan kembali tumbuh dan naik kelas kembali.

"Kita harapkan sih pandemi cepat selesai, penanganan COVID-19 jadi PR utamanya. Semoga saja PPKM darurat berhasil jadi ekonomi bisa dipicu lagi. Kalau sudah konstan tumbuh 5% lagi, maka kita akan naik kelas lagi," jelas Josua.



Simak Video "Sri Mulyani Beri Kabar Baik untuk Ekonomi RI"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/das)