Smartphone Jadi Juara 1 Barang Paling Laku di Masa Pandemi

Tim detikcom - detikFinance
Sabtu, 10 Jul 2021 10:00 WIB
Woman using smartphone. The concept of using the phone is essential in everyday life.
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Penjualan ponsel pintar alias smartphone di masa pandemi terus meroket. Hal ini dapat dilihat dari data kontrak pembiayaan Home Credit Indonesia (Home Credit) sepanjang kuartal I 2021.

Smartphone tercatat menjadi komoditas yang paling banyak dibeli oleh pelanggan dengan menggunakan fasilitas pembiayaan Home Credit. Selama kuartal I 2021, dari total 274 ribu kontrak pembiayaan, sebanyak 66% nya ditujukan untuk pembelian smartphone. Selebihnya pembiayaan untuk barang elektronik dan TV (17%), lalu barang lainnya seperti laptop, gadget, furnitur, aksesoris mobil, dan fesyen sebanyak 17%.

Adapun jika melihat data pada kuartal sebelumnya yaitu kuartal IV 2020, smartphone juga merupakan komoditas unggulan dengan persentase sebanyak 65% dari total 247 ribu kontrak. Jika dibandingkan secara kuartal ke kuartal, maka untuk komoditas smartphone sendiri mengalami pertumbuhan yang positif sebesar 13%.

"Pembiayaan yang disalurkan Home Credit untuk komoditas smartphone memang memiliki porsi yang cukup besar dibanding komoditas lain. Hal tersebut tentu turut dipicu oleh kebutuhan masyarakat akan smartphone yang tak terbendung disertai berbagai inovasi yang ditawarkan oleh berbagai brand smartphone," kata Direktur Utama Home Credit Indonesia, Animesh Narang dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (10/7/2021).

Tren penggunaan smartphone oleh masyarakat Indonesia memang semakin berkembang. Berdasarkan survei Jakpat bertajuk 'Indonesia Mobile Habit Trend 2020', kebutuhan untuk mengakses internet apalagi selama pandemi semakin mendorong intensitas penggunaan smartphone.

Dilihat dari hasil survei yang melibatkan 2.368 responden, penggunaan untuk komunikasi termasuk media sosial ada di urutan pertama atau sebanyak 97,3% responden melakukan aktivitas ini, lalu aktivitas hiburan seperti gaming dan streaming film/musik (76%), belanja dan transaksi online (74%), jasa transportasi dan pengiriman (52,6%), kegiatan belajar dan bekerja jarak jauh (50,2%), dan akses informasi kesehatan serta olahraga (27,9%).

Khusus untuk kegiatan belajar dan bekerja jarak jauh yang kini cenderung menjadi kegiatan utama masyarakat karena adanya pembatasan kegiatan masyarakat, aktivitas yang paling sering dilakukan dengan smartphone mereka yaitu video call/conference, berbagi dokumen, koordinasi dengan tim, dan mengakses jurnal atau buku elektronik. Adanya aktivitas yang tinggi tersebut tentu membutuhkan smartphone dengan spesifikasi yang memadai, inilah yang mendorong orang untuk terus meningkatkan fitur smartphone nya termasuk berpindah ke smartphone seri terbaru.

Jika melihat pertumbuhan pasar smartphone secara nasional, data dari lembaga riset global GFK, menunjukkan bahwa terdapat kenaikan pada total nilai penjualan dari kuartal IV 2020 sebesar Rp 34,5 miliar menjadi Rp 34,7 miliar di kuartal I 2021. Dilihat secara year-on-year (kuartal I 2020 vs. kuartal I 2021), terdapat kenaikan sebesar 19,2% untuk nilai penjualan smartphone dan 16% kenaikan pada total unit yang terjual.

"Kami melihat bahwa tren pertumbuhan smartphone cenderung positif, di mana pada kuartal I tahun ini brand-brand besar meluncurkan berbagai model terbaru terutama untuk segmen premium. Sehingga dari data riset pasar yang kami lakukan, terlihat total nilai penjualan pun naik secara q-t-q," kata Tech Account Director GFK Seno Buwono.

Lebih lanjut Seno menerangkan bahwa walaupun tren pembelian online semakin meningkat apalagi di tengah situasi pandemi, namun pembelian secara offline tetap memberikan kontribusi yang besar. Di mana pada kuartal I 2021, pembelian smartphone melalui toko-toko gadget konvensional memiliki presentase sebesar 66,9% dari total penjualan yaitu 11,7 juta unit, lalu melalui toko ritel sebanyak 8,6%, sedangkan via online sebesar 24,5%. Saluran penjualan offline pun juga turut mendorong pertumbuhan penjualan smartphone secara bertahap tidak hanya di kota-kota besar tapi juga kota satelit.

(eds/eds)