Cara Warga Lebanon Bertahan di Krisis yang Bagai 'Neraka'

Siti Fatimah - detikFinance
Minggu, 11 Jul 2021 06:32 WIB
Situasi krisis ekonomi di Lebanon semakin parah hingga membuat negara ini disebut bagai neraka oleh warganya sendiri. Hiperinflasi dan kelangkaan berbagai kebutuhan pokok membuat situasi di Lebanon semakin tak tertahankan bagi warganya.
Foto: Pool
Jakarta -

Lebanon tengah berjuang untuk tetap 'hidup' di tengah kondisi krisis ekonomi negaranya. Saking parahnya, situasi krisis ekonomi di Lebanon disebut bagai 'neraka' oleh warganya sendiri.

Berbagai macam cara pun diupayakan agar seluruh warga negara dapat bertahan di tengah keterpurukan itu. Berikut beberapa cara yang dilakukan Lebanon agar bertahan dari keterpurukan:

1. Tentara Sewakan Helikopter

Di Lebanon, para tentara harus putar otak cari cara membayar biaya sewa helikopter. Salah satu cara yang dilakukan yaitu menyediakan jasa sewa helikopter yang mereka miliki.

"Perang yang kami hadapi adalah ekonomi dan oleh karena itu membutuhkan cara yang tidak konvensional ... dan ide yang kami miliki adalah melakukan tur helikopter," kata Juru Bicara Militer Lebanon, Kolonel Hassan Barakat, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (10/7/2021).

Lebih lanjut, paket yang ditawarkan dari jasa sewa helikopter itu yakni perjalanan 15 menit dengan helikopter pelatihan tentara Robinson R44 berharga US$ 150.

2. Menghemat Air
Para warga negara Lebanon mulai menghemat penggunaan air. Terlebih setelah perusahaan air setempat meminta masyarakat mengurangi konsumsi mereka seminimal mungkin setelah terpaksa menutup pompa air dan stasiun distribusi karena kekurangan listrik. Perusahaan Air Lebanon Utara mengumumkan ini sebagai keadaan darurat tingkat tinggi.

3. Wanita di Lebanon Pakai Pembalut dari Popok Hingga Kain
Wanita di Lebanon juga saat ini kesulitan membeli pembalut sebagai kebutuhannya setiap bulan. Krisis ekonomi di sana membuat barang semakin langka dan harga melonjak drastis.

Pada 2019, satu paket pembalut dibanderol 3.000-4.000 pound Lebanon atau sekitar Rp 28.860 hingga Rp 38.480 (kurs Rp 9,62). Kini, harga pembalut yang sama sudah mencapai 13.000 pound atau sekitar Rp 125.000, bahkan dilaporkan ada yang dibanderol 32.000 pound (Rp 307.000).

Dengan melonjaknya harga pembalut di Lebanon, perempuan bernama Sherine tidak mampu lagi membeli pembalut. Jadi setiap bulan dia terpaksa membuatnya sendiri dari popok bayi atau kain lap.

"Dengan semua kenaikan harga dan rasa frustrasi karena tidak bisa mengatur, saya lebih baik berhenti menstruasi sama sekali," kata wanita berusia 28 tahun itu sambil air mata mengalir di pipinya.

Sebagai informasi, Lebanon saat ini mengalami salah satu depresi terdalam dalam sejarah modern. Mata uang Lebanon telah kehilangan lebih dari 90% nilainya dalam waktu kurang dari dua tahun dan lebih dari setengah populasi telah tenggelam dalam kemiskinan.

Komandan Angkatan Darat Jenderal Joseph Aoun memperingatkan bulan lalu bahwa krisis ini disebabkan oleh korupsi puluhan tahun dan pemborosan dalam pemerintahan. Selain itu, situasi politik dan perang sipil serta penumpukan utang pun disebut jadi salah satu faktor krisis ekonomi di Lebanon.

(zlf/zlf)