Anggota DPR Ini Minta Masyarakat Tak Ributkan Vaksinasi Berbayar

Tim detikcom - detikFinance
Senin, 12 Jul 2021 08:19 WIB
Kepala BNP2TKI Nusron Wahid
Foto: Dok. BNP2TKI
Jakarta -

Anggota Komisi VI DPR Nusron Wahid menganggap program vaksin gotong royong berbayar yang dilakukan PT Kimia Farma sebagai hal yang positif. Ia berharap masyarakat tidak salah sangka dan meributkannya.

"Kok pada ribut soal vaksin gotong royong berbayar yang dilakukan PT Kimia Farma? Bukankah memang ada dua penugasan. Vaksin gratis yang dikelola oleh Bio Farma. Ini yang didedikasikan untuk rakyat secara umum. Gratis. Pelaksanaannya massif sampai Puskesmas dan lapis masyarakat. Kedua vaksin gotong royong berbayar. Diperuntukkan bagi siapa saja yg bersedia. Pelaksananya Kimia Farma, Indo Farma dan perusahaan farmasi apa saja yg bisa mendatangkan vaksin yang dapat lesen dari BPOM. Yang menentukan harga Menkes. Atas dasar masukan dan pertimbangan dari BPKP," kata Nusron, melalui akun twitternya, seperti dikutip Senin (12/7/2021).

Menurut Nusron, untuk vaksin gotong royong berbayar biasanya yang dilayani para profesional dan kalangan usahawan yang dikoordinir Kadin. Sebagian ada yang dibayari kantor. Dan sebagian ada yang bayar sendiri. Sesuai kebijakan kantor dan perusahaannya.

"Saya kira ini positif. Sebab, dia merasa dirinya mampu. Tidak mau membebani negara. Makanya bersedia bayar," ungkap mantan Ketua Umum GP Ansor ini.

Menurut Nusron, justru inilah dimensi keadilan. Masak direktur BUMN dan profesional lainnya yang gajinya ratusan juta, disubsidi vaksin oleh negara.

"Biarkan subsidi itu dinikmati oleh mayoritas rakyat yang berhak. Saya kira ini fair. Sepanjang tidak mengganggu pelayanan vaksin gratis untuk rakyat," ungkap tokoh muda NU ini.

Karena itulah, politikus Partai Golkar ini melihat aneh jika ada yang mempermasalahkan. "Wong orang mampu beli vaksin kok dipersoalkan. Kecuali semua vaksin dijual, itu yang salah. Apalagi kalau dijual kepada orang miskin, lebih salah lagi," tegasnya.

Justru dengan adanya vaksin gotong royong individual, ada akselerasi vaksin. Menurut Nusron, justru aneh dan salah kalau kelompok yang berpenghasilan tinggi masih mengharapkan vaksin gratis dari pemerintah.

"Bukankah itu jatahnya orang kecil yang berpenghasilan rendah? Saya kira inilah salah satu cara kita membantu negara di tengah kesusahan. Minimal tidak mau membebani APBN," terang Nusron.

"Bravo Kimia Farma. Lanjutkan dan percepat vaksin gotong royong untuk kalangan yang mau bayar. Bravo Bio Farma. Lanjutkan dan percepat vaksin gratis yang dibiayai APBN. Semoga semua rakyat Indonesia tervaksin. Tidak terkecuali. Yang kaya bayar. Yang tidak mampu, gratis. Silakan pilih," pungkasnya.

(fdl/fdl)