Singapura Tambah Investasi ke RI, Ini 6 Pokok Perjanjiannya

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Kamis, 15 Jul 2021 11:40 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gan Kim Yong menyelesaikan pembahasan enam kelompok kerja yang akan menjadi materi pertemuan Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Lee Hsien Loong.
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gan Kim Yong menyelesaikan pembahasan enam kelompok kerja yang akan menjadi materi pertemuan Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Lee Hsien Loong. Leader's retreat yang sempat tertunda tahun lalu itu diharapkannya bisa dilaksanakan tahun ini.

Adapun 6 pokok perjanjian bilateral yang telah disepakati itu akan berfokus pada perkembangan kerja sama di Kawasan Batam-Bintan-Karimun (BBK) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) lainnya, investasi, transportasi, pariwisata, tenaga kerja serta agribisnis.

Kedua Menteri berharap enam bidang kerja sama itu bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi pasca pandemi COVID-19. Implementasi dari rencana kerja yang telah disepakati diharapkannya bisa meningkatkan investasi dan memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Gan Kim Yong menerangkan peningkatan investasi untuk membuka lapangan kerja akan menjadi modal bagi pemulihan ekonomi pasca pandemi. Airlangga pun menyambut baik peluang peningkatan investasi, mulai dari energi hijau, e-commerce, data center, hingga carbon trading.

Diketahui, pada pertemuan itu kedua menteri turut membahas pentingnya green economy sebagai upaya untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Adapun Salah satu peluang kerja sama antara Indonesia dan Singapura yang akan ditingkat adalah pengembangan green economy.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 41 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yang merupakan aturan pelaksanaan dari UU Cipta Kerja. PP tersebut bertujuan meningkatkan kemudahan pelayanan, kelancaran dan pengawasan arus lalu lintas barang dalam pemasukan barang ke atau pengeluaran barang dari Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas.

"Untuk Kawasan BBK, dipersiapkan menjadi hub logistik internasional untuk mendukung integrasi dan persaingan industri, perdagangan, maritim dan pariwisata," ujar Airlangga dalam keterangannya, Kamis (15/7/2021).

Sementara, untuk mendukung teknologi digital agar semakin berkembang di Kawasan BBK, Pemerintah Indonesia telah meresmikan Nongsa Digital Park pada Maret 2018 lalu. Lokasi ini merupakan proyek utama yang dipergunakan sebagai hub digital antara Indonesia dan Singapura.

Nongsa Digital Park juga sudah ditetapkan sebagai KEK melalui PP No. 68 Tahun 2021. Saat ini, Nongsa Digital Park memiliki sekitar 160 perusahaan dengan 1000 pekerja yang berasal dari perusahaan lokal maupun perusahaan asing.

Di sisi lain, Perusahaan Telkom asal Uni Emirat Arab, Etisalat dan Telkom berencana menggelontorkan dana investasi hingga US$100 juta untuk membangun data center di Nongsa Digital Park. Selain Nongsa Digital Park, Pemerintah Indonesia juga sudah menetapkan zona Batam Aero Technic (BAT) di Batam sebagai KEK melalui PP No. 67 Tahun 2021.

Selain itu, Pertemuan juga membahas isu ketenagakerjaan dan upaya untuk meningkatkan kapasitas tenaga kerja melalui kolaborasi antara kedua negara. Indonesia dan Singapura telah menandatangani 29 Perjanjian Kerja Sama (MoU) terkait peningkatan kapasitas tenaga kerja melalui pembahasan manajemen rantai pasokan, keahlian ekonomi digital, teknologi finansial, inovasi sosial, analisa data, pariwisata dan hospitality, kepemimpinan, kebudayaan dan obat obatan.