Rektor IPB Puji Capaian Pertumbuhan Sektor Pertanian di Masa Pandemi

Khoirul Anam - detikFinance
Selasa, 20 Jul 2021 20:47 WIB
Rektor IPB University Arif Satria
Foto: Istimewa
Jakarta -

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Arif memuji Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Hasil kajian dari IPB, pada tahun 2019 sampai 2020, sektor pertanian di tengah pandemi COVID-19 mampu meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB), Nilai Tukar Petani (NTP), ekspor produk pertanian, dan penyerapan tenaga di sektor pertanian yang cukup tinggi.

Menurutnya, kontribusi PDB yang semula hanya 12,09% pada tahun 2019, kini naik menjadi menjadi 15,01% pada tahun 2020. Khusus subsektor tanaman pangan semula 21,63% naik menjadi 25,82%.

"Jika dibanding sektor lain, sektor pertanian dapat menjadi penyelamat bagi pembangunan nasional. Sesuai data BPS, mampu tumbuh sekitar 2,22% saat masa krisis seperti sekarang. Pertama empower of last resource dan kedua penyelamat kinerja ekspor," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/7/2021).

Untuk produktivitas beras, Arif berpendapat bahwa produksi beras Indonesia dibandingkan negara-negara di ASEAN tidak beda jauh. Produktivitas beras Indonesia sebesar 5,24 ton/hektare masih di atas Thailand sebesar 3,33 ton/hektare dan Vietnam sedikit lebih tinggi yakni 5,42 ton/hektare.

Arif menambahkan selain produktivitas beras yang bagus, peningkatan PDB ini dikarenakan keberhasilan sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dilakukan oleh Kementan. Ia mencatat serapan KUR tahun ini adalah prestasi yang belum pernah ada sebelumnya.

"Yang paling penting lainnya adalah dukungan kebijakan fiskal dan koordinasi secara teknis yang dibangun Kementerian Pertanian dengan kementerian lainnya. Kebijakan fiskal yang dimaksudnya adalah kebijakan rasio untuk substitusi impor. Misal, para pengimpor terigu harus menyerap bahan baku lokal," katanya.

Terkait hal ini, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa kebutuhan pangan adalah kebutuhan utama yang mutlak dipenuhi secara berkelanjutan. Artinya, tidak boleh ada satupun warga Indonesia yang menderita kelaparan karena tidak bisa menemukan makanan.

Oleh karena itu, kata Syahrul, ketersediaan stok pangan harus dihitung secara matang dan sesuai dengan data di lapangan. Upaya ini juga yang selama ini dilakukan, yang mana Kementan terus bekerja dengan melibatkan semua pihak baik swasta maupun lembaga negara lainnya.

"Pertanian itu bukan hanya Kementan, tapi melibatkan semua pihak untuk memenuhi ketersediaan pangan. Tidak boleh ada satu orang pun warga negara kita yang menderita kelaparan. Insyaallah pangan kita selalu cukup," katanya.

Berdasarkan catatan BPS, Kementan di bawah pimpinan Syahrul Yasin Limpo berhasil menjaga situasi pangan nasional dalam keadaan aman dan terkendali. Bahkan BPS Melaporkan hasil panen beras tahun 2021 diprediksi mencapai 33 juta ton dari realisasi hasil panen tahun 2020 yang hanya 31,33 juta ton.

Selain itu, stok beras yang ada di Perum Bulog mencapai 1,39 juta ton yang terdiri dari 1,37 juta stok cadangan beras pemerintah dan 14.765 ton stok komersial. BPS juga mencatat sektor pertanian sejak triwulan II-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 16,24 (QtoQ) dengan nilai ekspor pada Januari-Desember naik sebesar 15,79 persen atau sekitar Rp451,77 triliun.

Lalu pada triwulan 1 2021, sektor pertanian juga tumbuh meyakinkan dengan angka sebesar 2,95 (YoY). Di sisi lain, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) pada bulan Mei 2021 mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yang mana terjadi secara konsisten yang dihitung sejak Oktober 2020 hingga Mei 2021.

NTP bulan Okteber 2020 mencapai 102,25, kemudian pada November mencapai 102,86, Desember 103,25, Januari 103,26, Februari 103,10, Maret 103,29, April 102,93 dan bulan Mei tahun ini mencapai 103,29 atau naik sebesar 0,44%.

Begitupun dengan nilai tukar usaha petani yang naik konsisten sejak Oktober 2020, yakni sebesar 1002,42. Lalu pada November mencapai 103,28, Desember 104,00, Januari 104,01, Februari 103,72, Maret 103,87, April 103,55 dan Mei bulan ini angkanya mencapai 104,04 atau naik 0,48 persen.

Baru-baru ini, BPS mengumumkan nilai ekspor sektor pertanian pada bulan Juni 2021 mengalami kenaikan, yakni sebesar 33,04 persen (M-to-M) atau sebesar 15,19 persen secara (Y-on-Y). Kenaikan terjadi setelah komoditas tanaman obat, aromatik, rempah, kopi dan sarang burung walet memberi andil besar dalam ekspor selama Juni 2021.

Secara nilai, ekspor sektor pertanian tercatat mencapai US$ 0,32 miliar, dengan ekspor nonmigas secara nasional menyumbang sebesar 93,36% dari total nilai ekspor Juni 2021 yang mencapai US$ 18,55 miliar atau naik sebesar 9,52 %. Adapun secara kumulatif, ekspor nonmigas selama Januari-Juni mengalami kenaikan sebesar 94,35%, di mana sektor pertanian mencapai US$ 1,95 atau mengalami peningkatan sebesar 14,05%.

(ncm/ega)