Kolom

Merancang Penangkapan Ikan Terukur untuk Indonesia Makmur

Sakti Wahyu Trenggono - detikFinance
Kamis, 22 Jul 2021 11:49 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono mendukung industri perikanan di Probolinggo semakin maju.
Foto: Dok. KKP
Jakarta -

Indonesia sebagai negara maritim dianugerahi sumber daya alam kelautan yang luar biasa kaya dari Sang Pencipta.

Mulai dari macam-macam jenis ikan, karang, hingga lamun. Perpaduan ini disebut sebagai ekosistem kelautan. Kontribusinya sangat besar bagi kelangsungan hidup manusia, baik sebagai sumber pangan, jalur transportasi, pemicu pertumbuhan ekonomi, kesehatan, sampai kaitannya dengan sosial dan budaya. Untuk itu, menjaga laut tetap sehat adalah keniscayaan.

Apalagi, dua per tiga wilayah Indonesia merupakan lautan dengan luas mencapai 6,4 juta kilometer persegi.

Luas kawasan terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai 25.000 kilometer persegi (COREMAP-CTI LIPI, 2016) atau sekitar 10 persen dari total terumbu karang secara global. Indonesia termasuk dalam kawasan segitiga terumbu karang atau Amazon of The Seas yang menjadi pusat keanekaragaman hayati dunia.

Terdapat sedikitnya 4.720 spesies ikan laut maupun tawar yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah spesies ikan terbesar di dunia. Di antaranya jenis ikan dengan nilai ekonomi tinggi dan ikan-ikan langka, yang membuat perairan Indonesia begitu istimewa. Dari sisi ekonomi, nilai produksi perikanan pada tahun 2020 mencapai Rp380,61 triliun.

Anugerah besar ini patut kita syukuri. Namun di sisi lain, banyak ancaman di depan mata yang berpotensi mendegradasi keistimewaan yang dimiliki NKRI.

Sebut saja kegiatan over fishing, illegal dan destructive fishing yang pelakunya bukan hanya kapal-kapal penangkapan ikan berbendera asing, tapi juga kapal-kapal penangkap ikan yang dimiliki oleh masyarakat.

Kemudian rusaknya terumbu karang dan hutan mangrove akibat beragam aktivitas manusia yang tujuannya diklaim sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di pesisir, hingga pencemaran laut imbas sampah dan limbah yang akhirnya 'mencekik leher' biota di dalamnya.

Ironinya, eksploitasi ini masih saja menjadikan wilayah pesisir termasuk dalam kawasan kantong kemiskinan yang mendominasi.

Ironis, tapi itulah realitanya. Dan ini menjadi tantangan bagi saya sebagai nakhoda dan seluruh awak kapal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang mendapat mandat menjadikan laut sebagai masa depan bangsa dan poros maritim dunia seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo.

Lanjut ke halaman berikutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Edhy Prabowo Singgung Eks Pimpinan KKP Amburadul"
[Gambas:Video 20detik]