Bambang Brodjonegoro Ditunjuk Jadi Komisaris Lagi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 23 Jul 2021 18:45 WIB
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menyebutkan, pariwisata jadi salah satu sektor yang paling terpukul karena adanya pandemi COVID-19.
Foto: detikcom
Jakarta -

Setelah tak lagi menjadi Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro mendapatkan banyak kursi komisaris di beberapa perusahaan. Kali ini giliran PT Oligo Infrastructure Indonesia yang menunjuk Bambang menjadi Presiden Komisaris.

Dengan begitu, ada lima perusahaan yang mempercayai Bambang sebagai komisaris. Sebelumnya, Bambang dipercaya menjadi komisaris independen di PT Astra Internasional Tbk dan PT TBS Energi Utama Tbk. Dia juga menjadi komisaris utama di PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dan Bukalapak.

Presiden Direktur PT Oligo Infrastructure Indonesia Cynthia Hendrayani menyatakan bahwa dengan bergabungnya Bambang sebagai Presiden Komisaris merupakan satu nilai tambah yang tidak bernilai bukan hanya bagi perusahaan, namun juga bagi masyarakat luas. Sebab Bambang dinilai terbukti bisa memberikan manfaat dari buah pemikiran dan kerja nyatanya sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas 2016-2019.

"Bapak Bambang adalah sosok terbaik dan paling tepat untuk menjadi pemimpin dewan komisaris untuk Oligo, dan kami siap berkolaborasi untuk dapat mewujudkan banyak sekali perubahan positif bagi masyarakat, khususnya dalam tata kelola sampah dan lingkungan hidup di Indonesia," ucapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (23/7/2021).

Usai tak lagi menjadi menteri, Bambang sendiri memutuskan tetap produktif khususnya dalam mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat lewat berbagai inovasi berbasis riset dan teknologi terapan.

Di masa akhir sebagai pejabat eksekutif, Menteri Keuangan tahun 2014-2016 ini masih mendorong upaya ketersediaan energi sekaligus mengusahakan peningkatan peran energi baru terbarukan (EBT). Caranya melalui inovasi dan kesiapan teknologi agar mampu mencapai target kontribusi EBT pada 2025 mendatang.

Tidak sampai di situ saja, isu lingkungan hidup khususnya terkait sampah menjadi perhatian alumni Universitas Indonesia saat ini. Baginya, permasalahan sampah adalah bahaya laten yang menghantui masa depan tata kelola lingkungan negeri ini khususnya tatanan sosial kemasyarakatan serta derajat kualitas kesehatan kita.

Untuk mengatasi hal ini, menurutnya Indonesia perlu mengadopsi model sirkuler ekonomi, di mana kegiatan pemanfaatan kembali, daur ulang, dan pabrikan yang bertanggung jawab juga mendukung pertumbuhan industri dan terbukanya lapangan kerja.

"Saya memiliki pengharapan bahwa kota-kota besar di Indonesia bisa meninggalkan pengolahan sampah cara-cara tradisional. Indonesia, dan khususnya para kepala daerah harus mulai mengadaptasi berbagai pilihan teknologi, salah satunya Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), yang merupakan bagian dari implementasi sirkuler ekonomi. Sehingga dengan satu aktivitas seperti ini, baik pemerintah maupun masyarakat bisa mencapai beberapa tujuan, yaitu untuk kebersihan lingkungan, pemanfaatan material sisa untuk penyediaan energi, dan pengurangan konsumsi bahan bakar fossil," jelas Bambang.

PSEL yang merupakan salah proyek strategis nasional sesuai Perpres No 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan adalah system pengolahan sampah yang bertujuan untuk memusnahkan sampah secara signifikan dan ramah lingkungan, dan juga menghasilkan listrik, dan bertujuan untuk membantu kepala daerah dalam menuntaskan permasalahan kedaruratan sampah.

Menurut Bambang hal ini penting karena dalam kerangka Paris Agreement dan pedoman ekonomi hijau dunia dimana saat ini negara-negara di dunia berlomba mewujudkan tata kelola berbasis ekonomi sirkuler. Dia menambahkan, tren ekonomi selama ini bersifat linier di mana limbahnya tidak dikelola dan hasilnya menjadi beban bukan hanya hari ini, namun masa depan generasi penerus bangsa. Dengan ekonomi sirkuler, limbah yang muncul dari kegiatan manusia dimanfaatkan secara maksimal, sehingga dampak lingkungannya menjadi minimal tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Untuk tetap mengabdikan pemikiran dan kiprah terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat, Bambang menyambut baik ajakan untuk menjadi Presiden Komisaris pada PT Oligo Infrastruktur Indonesia (Oligo) yang secara resmi telah ditetapkan pada 1 Juli 2021 yang lalu.

"Oligo menjadi rumah bagi saya untuk dapat mendukung pengembangan teknologi-teknologi yang menuntaskan sampah yang memberikan solusi jangka panjang bagi bangsa dan negara ini. Presiden Jokowi bahkan terus mendorong terciptanya program-program seperti ini di berbagai kota besar di Indonesia. Untuk itu saya sangat antusias dan menyambut baik peran dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya," ujar alumnus University of Illinois at Urbana-Champaign.



Simak Video "Menristek Ungkap 3 Kelebihan GeNose Sebagai Alat Screening COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/das)