China Sentil AS: Ubah Pola Pikir yang Salah Arah!

Siti - detikFinance
Senin, 26 Jul 2021 22:46 WIB
FILE - In this Sept. 25, 2015, file photo, a military honor guard await the arrival of Chinese President Xi Jinping for a state arrival ceremony at the White House in Washington. China on Tuesday, Dec. 8, 2020, lashed out at the U.S. over new sanctions against Chinese officials and the sale of more military equipment to Taiwan. (AP Photo/Andrew Harnik, File)
Ilustrasi/Foto: AP Photo/Andrew Harnik, File
Jakarta -

Pertemuan tingkat tinggi yang dilakukan antara pejabat Amerika Serikat dan China diakhiri dengan kritik dari kedua belah pihak. Pertemuan tersebut dilakukan di Kota Tianjin, China.

Dilansir dari CNBC.com, sebelum pertemuan berakhir, Menurut Kemenlu China, Wakil Menteri Luar Negeri Xie Feng mengatakan kepada Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman bahwa hubungan kedua negara saat ini menemui jalan buntu dan menghadapi kesulitan yang serius.

"Pada dasarnya, itu karena beberapa orang Amerika menggambarkan China sebagai 'musuh yang dibayangkan," ujar keterangan tertulis Kemenlu China, Senin (26/7/2021).

"Kami mendesak Amerika Serikat untuk mengubah pola pikirnya yang sangat salah arah dan kebijakan berbahayanya," lanjutnya.

Pernyataan tersebut menjelaskan, bagaimanapun, China masih ingin bekerja dengan AS, dengan syarat para pemimpin 'mengubah arah' dan mematuhi kepentingan China. Pihak China memberikan dua daftar kesalahan yang perlu diperbaiki AS.

Pertama menyerukan AS untuk menarik permintaan ekstradisi dari Huawei CFO Meng Wanzhou, mencabut sanksi terhadap pejabat China, menghapus pembatasan visa pada pelajar China, berhenti menekan perusahaan China, di antara permintaan lainnya.

Ketegangan antara AS dan China telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di bawah Presiden Joe Biden, AS telah meningkatkan kritiknya terhadap Beijing atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di kawasan seperti Xinjiang dan Hong Kong. Beijing menganggap masalah itu sebagai urusan internal.

Biden tidak hanya mempertahankan posisi keras Trump di China, tetapi dia bekerja lebih banyak dengan sekutu AS dalam menekan China secara keseluruhan. Biden disebut telah mampu membujuk negara-negara G-7 utama untuk membuat pernyataan yang kuat terhadap China tetapi belum sampai pada strategi perdagangan atau pendekatan lain yang akan benar-benar efektif dalam melawan kekuatan ekonomi China.

(hns/hns)