Orang Makan di Tempat Sepi, Omzet Warteg Terjun 90%

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 28 Jul 2021 11:36 WIB
Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara) mengkritik aturan makan 20 menit selama PPKM level 4 di sejumlah wilayah.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mulai dari mikro, darurat hingga level 3 dan 4 membuat bisnis warteg terpukul. Omzet pedagang warteg anjlok sampai 90%.

Kebijakan PPKM amat berdampak bagi bisnis warung makan dari tanah Tegal tersebut, mulai dari pembatasan operasional hingga pembatasan mobilitas masyarakat yang secara tidak langsung ikut memberi dampak.

"(Penurunan omzet) kalau online sekitar 50%, kalau yang offline jelas hampir sampai 90%," kata Ketua Umum Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara) Mukroni kepada detikcom, Rabu (28/7/2021).

Dia menjelaskan bahwa pelanggan warteg kebanyakan adalah kaum pekerja. Sementara saat ini pemerintah membuat kebijakan agar pekerja non esensial bekerja dari rumah (work from home/WFH).

"Pekerja ini kan misalnya di DKI ini kan yang dari Depok, dari Tangerang, dari Bekasi, ini kan disekat kecuali (bisnis) esensial kan. Saya dapat informasi kalau siang itu penduduk Jakarta bisa melebihi 5 juta, kan dari daerah satelit ya, bukan hanya Jabodetabek bisa dari Karawang, terus dari Balaraja. Artinya PPKM ini lebih parah daripada PSBB," jelasnya.

Pedagang warteg tak bisa berharap banyak pada pelanggan dari lingkungan perumahan warga. Sebab, rata-rata mereka memasak sendiri, dan hanya segelintir yang membeli lauk-pauk di warteg.

"Pelanggan itu kan banyak sebenarnya pekerja ya, kalau orang rumahan kan nggak mungkin lah, dia masak sendiri kan, ya ada satu-dua (yang beli)," sebut Mukroni.

Berjualan secara online pun tak bisa diharapkan banyak. Sebab, pembelian melalui layanan tersebut ikut terdampak.

Tonton Video: Makan di Warteg Dibatasi 20 Menit, Pelanggan: Daripada Makan di Luar

[Gambas:Video 20detik]



(toy/zlf)