Sri Mulyani Prihatin Info Hoax Berseliweran Selama Pandemi

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 03 Agu 2021 20:16 WIB
Di tengah memanasnya perhatian publik terkait rencana pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap barang kebutuhan pokok atau sembako, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati langsung terjun ke pasar untuk menemui pedagang. Pasar Santa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dipilih jadi tujuannya kali ini.
Foto: Istimewa/instagram/@smindrawati: Menkeu Sri Mulyani Blusukan Jelaskan Sembako di Pasar Tak Kena PPN
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bicara seputar hoax selama pandemi COVID-19. Kondisi ini, menurut Sri Mulyani, menjadi tantangan bagi para pejabat untuk mampu menangkis aneka hoax tersebut dan menjelaskan dengan kalimat yang mudah dipahami publik tentang kebijakan diambil.

"Banyak hoax tadi yang disebutkan disinformasi, misinformasi, yang dengan sengaja menenggelamkan informasi yang sudah diberikan, tenggelam habis. Ini merupakan tantangan bagi para pejabat pengelola informasi bagaimana kita menjelaskan policy proses hingga menjadi sebuah policy dan harus dipahami," ujar Sri Mulyani dalam sebuah webinar tentang Keterbukaan Informasi Publik, Selasa (3/8/2021).

Sri Mulyani mengatakan dirinya mengambil sikap menyampaikan informasi kepada publik secara utuh. Termasuk dampak dari kebijakan terhadap masyarakat, sehingga informasi yang disampaikan tidak setengah-setengah.

Selain itu, konteks dari materi informasi yang hendak disampaikan juga harus diperhatikan sehingga tidak memicu salah persepsi.

"Saya ingin tidak hanya berhenti di output dan outcome, tapi impact (dampak) informasi itu ada gunanya tidak informasi itu keluar, dan bisa bertahan ketika dihadapkan pada disinformasi yang lain karena begitu dia meluncur dia tidak sendirian. Dalam lapangan publik ini banyak sekali kontestasinya yang malah menimbulkan salah sangka, prasangka apalagi diplintir sedikit yg bisa menggerusi kepercayaan tadi," tegas Sri Mulyani.

Dia mencontohkan pernyataan dia saat Januari tahun ini dipotong-potong, lalu ditampilkan ke publik. Namun, Sri Mulyani tidak menjelaskan detail pernyataan tersebut.

"Contoh omongan saya di Januari dengan kondisi saat itu dipotong lalu ditampilkan. Ditabrakkan dengan omongan saya saat ini dengan konteks yang sudah berbeda kemudian mereka membenturkan waktu Januari bilang begini kok sekarang bilangnya begitu? Itu bisa terjadi," terang mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Di sisi lain, Sri Mulyani mengingatkan di negara maju pun tidak kebal hoax. Masyarakatnya pun mudah terpancing informasi hoax. Termasuk soal vaksinasi COVID-19.

"Kita lihat aja di negara besar yang sudah maju ternyata bisa publiknya mudah sekali diisi oleh informasi yang totally nggak ada landasannya tapi dipercaya. Contoh nyata di bidang vaksin ada di negara yang sudah maju penduduknya nggak percaya COVID dan vaksin, jadi kalau mereka punya vaksin banyak rakyatnya nggak mau divaksin.

Oleh sebab itu, Sri Mulyani sudah meminta selutuh pegawai Kementerian Keuangan harus menjaga sikap maupun tutur kata sehingga tidak menimbulkan persepsi tertentu di publik.

(aid/hns)